CHAPTER 1
Claire
don't know how long it's gonna take to feel okay but I know I had the best day with you today..
Buk!! Sesuatu yang berat tiba-tiba menimpa kepalaku. Aku terhuyung kedepan sementara terdengar suara tawa nan menyebalkan dari arah belakang. James. Ia tertawa lebar -bahkan seluruh giginya nyaris terlihat- setelah ia berhasil melempar bola basket dan tepat mengenai sasaran.
"Hahaha lihatlah mukanya memerah! Maaf, Claire, tapi kau salah memilih jalan melewati lapangan basket."
James berkata seolah-olah dialah yang benar. Dan itu adalah sebuah kesalahan.
"Ya. Aku tahu dan seisi sekolah ini tahu bahwa lapangan basket ini adalah milik kakek nenekmu kemudian diwariskan pada orang tuamu dan orang tua mu mewariskannya untukmu. Aku bertaruh bahwa kau adalah generasi terakhir pewaris lapangan basket konyol ini!"
Aku memakinya tanpa pikir panjang. Bahkan beberapa anak ditempat itu tampak berkerumun melihat heran ke arah kami.
"Aku bahkan sudah meminta maaf padamu."
"Kau tidak bersungguh-sungguh."
"Memang. Kau tahu itu."
"Kau.."
"Kau apa?"
"Kau memang brengsek."
Aku melangkahkan kakiku dengan cepat meninggalkan kerumunan kecil itu. Seharusnya hari ini menjadi awal yang baik bagiku. James tidak seharusnya berbuat onar dan mulai bertingkah kekanak-kanakan. Aku bahkan tidak mengenalnya akrab. Dia hanya sebatas teman. Oh, aku sangat baik menganggapnya sebagai teman mengingat bagaimana dia memperlakukanku. Kakiku terus melangkah hingga aku tiba di depan kelas. Kelas Peter. Pandanganku menyapu seluruh isi kelas yang hanya dihuni oleh murid laki-laki itu. Ah, disana. Seperti biasa ia duduk di dekat jendela. Entah apa yang sedang ia tulis, namun melihat sosok laki-laki itu dari sudut pandang manapun, ia tetap terlihat tampan. Tampak rambutnya yang hitam kecoklatan tertimpa sinar matahari. Aku melangkah masuk kemudian duduk di bangku yang tepat berada di depan mejanya. Ia mengerjap lalu tersenyum.
"Hey. Apa yang membuatmu kemari?"
Peter kembali terfokus pada buku didepannya dan tangannya mulai membolak-balik halaman demi halaman buku itu.
"Kau tahu? Teman baikmu kembali berulah. Dan coba tebak apa yang dia lakukan? Dia melemparku dengan bola basket setelah minggu lalu dia berhasil menumpahkan sirup yang kubawa."
"Ooh, baiklah.. Aku tidak akan membiarkan dia menyentuhmu lagi. Setidaknya bukan denganmu. Ia harus sadar bahwa kau adalah kekasihku."
"Kau sudah mengatakan hal itu untuk kesekian kalinya."
Jawabku. Aku menatap matanya dan aku tahu dia tidak benar-benar serius mengatakannya. Dia tersenyum, sementara tangannya mengacak-acak rambutku.
"Claire, aku sangat tidak setuju kau memikirkan kejadian itu untuk sekedar merusak moodmu sendiri. Ayolaah.."
"Kau selalu begini."
Kataku sembari mencoba menghentikan tangannya yang terus mengacak-acak rambutku. Kemudian ia menatapku heran.
"Senyummu, tatapanmu, dan semua tingkah manismu."
Jelasku. Dia dengan cepat mengerti apa yang kumaksud. Menit berikutnya kami berdua larut dalam perbincangan.
Duk.. Duk.. Duk.. Suara derap langkah seseorang terdengar dari belakang. Kemudian muncul sosok besar James dari balik pintu.
"Claire, apa kau tuli? Atau kau tidak mendengar bel masuk? Ku lihat pintu kelasmu sudah tertutup. Jangan sampai kau berurusan dengan Ms.Frey."
Benar. James masuk dengan langkah gontai sembari menenteng bola basket sialan itu. Aku mengerutkan kening dan menatap Peter. Dia mengerlingkan mata dan aku mengerti maksud itu.
"Baiklah sampai nanti, Pete."
Aku beranjak dari bangku dan menyeret tasku ketika tiba-tiba Peter memegang pergelangan tanganku. Aku menoleh. Kami saling bertatapan untuk sepersekian detik.
"Umm. Tidak apa-apa. Aku tunggu nanti di gerbang sekolah."
Dia tersenyum dan aku tahu, itu akan membuatku jauh lebih baik. Aku mengangguk setuju. Langkahku terasa sangat ringan. James boleh merusak setiap hariku, namun Peter jauh akan memberiku sejuta alasan untuk tersenyum. Lorong memang sudah tampak sepi. Aku berlari dengan cepat tanpa peduli apakah derap langkahku ini akan memecah keheningan atau tidak. Aku mengumpat dalam hati dan berpikir apa yang akan dilakukan Ms.Frey kepadaku mengingat ia adalah guru yang sangat jahat ketika ia marah. Aku menghela nafas panjang. Di depanku sudah terpampang sebuah pintu. Perlahan namun pasti, tanganku membuka daun pintu kelas tersebut.
Krek.. Seisi kelas menatapku heran. Namun lain halnya dengan tatapan Ms.Frey. Sepasang matanya menatapku tajam dibawah kacamata tebalnya. Tubuhnya yang kurus dan sedikit pendek mengisyaratkan bahwa ia tidak menerima alasan yang akan kuucapkan.
"Ma.. Maaf.."
"Aku tahu kau akan meminta maaf."
"Aku benar-benar menye.. Maksudku.. Aku tidak mendengar bel masuk berbunyi."
"Itu artinya kau sudah berada di sekolah sebelum bel masuk berbunyi bukan?"
Kata Ms.Frey menyudutkanku. Aku mengutuki apa yang tadi kuucapkan. Kepalaku tertunduk, tanganku yang dingin meremas-remas ujung jariku.
Alhasil aku harus menghabiskan 2 jam pelajaran dengan berdiri di depan tiang bendera. Matahari tak begitu terik pagi ini, karena langit terlihat mendung. Namun tetap saja ini terasa sangat menyiksa dan sangat memalukan.
Tes.. Tes.. Tes.. Rintik hujan jatuh menerpa keningku. Aku hanya memejamkan mata sambil menengadahkan kepalaku ke langit. Di tengah suara hujan yang semakin deras, samar-samar aku mendengar teriakan panik murid-murid perempuan dari kelas.
"Ms, biarkan Claire kembali ke kelas, hujan akan semakin deras.."
"Diamlah dan bersikaplah tenang. Tidak akan sampai dia merasa jera."
Begitulah jawaban yang berhasil ku dengar dari seberang lapangan. Kulihat Rose dan Mary, kedua sahabat baikku tengah merengek pada Ms.Frey dan yah, itu tidak akan berhasil. Rintik hujan semakin deras membasahi rambutku. Samar-samar kulihat sosok Peter di lantai dua gedung sekolah. Peter, tolong aku.. Aku menangis dalam hati. Kira-kira satu detik setelah aku memohonnya, laki-laki itu menoleh ke arah jendela dan pandangannya tertuju ke arahku. Tampak samar-samar wajahnya sedikit terkejut, seakan ingin memastikan bahwa yang dilihatnya itu adalah aku. Aku menarik nafas panjang. Ms.Frey berhasil mempermalukanku, bahkan didepan Peter.
Peter
Pagi ini hujan dan kebetulan aku menempati tempat duduk di pinggir jendela. Suara Sr.Jo hanya akan mengantarku tidur, pikirku. Ah, Claire. Ku harap ia akan baik-baik saja setelah menghadapi Ms.Frey.
"Hey, Pete, kau lihat ada seorang gadis berdiri di sana?"
James yang duduk di belakangku mengetuk-ngetuk punggungku dengan ujung pensilnya. James dan aku adalah sahabat karib. Kami sudah berteman sejak umur kami 5 tahun. Suatu kebetulan kami bersekolah di tempat yang sama serta di kelas yang juga sama. Mungkin hanya ada1 hal yang kurang kusukai darinya. James sering mencari masalah dengan Claire. Tapi kupikir itu hanyalah bentuk keakraban dengannya. Tentu aku masih dapat memakluminya.
"Pete! Lihatlah! Bukankah itu Claire-mu?"
Suara James berhasil menarik perhatianku. Aku menoleh ke arah jendela dengan cepat. Tampak seorang gadis berambut merah marun dengan tubuh kurus tengah berdiri di tengah lapangan. Sontak aku menahan nafas. Benar. Gadis itu Claire. Bagaimana bisa.. Oh tidak ini salahku. Aku menajamkan indra penglihatanku untuk kedua kalinya. Sepertinya gadis itu sedang menatapku dan kami saling berpandangan dalam jarak yang cukup jauh.
"Itu benar-benar Claire!"
Aku berbisik pada James hingga menimbulkan suara desisan yang sedikit menarik perhatian Sr.Jo. Kini seisi kelas melihat kearahku dan James. Suara besar nan berat Sr.Jo berhenti menggema di ruang kelas.
"Bolehkah ku dengar perbincangan kalian? Lebih baik untuk tidak mendesis di kelas. Bukan begitu, Mr.Aston dan Mr.Reagan?"
Sr.Jo memulai dengan kata-kata yang sedikit terdengar sarkastik ditelingaku.
"Tidak, Sir. Aku hanya ingin meminjam pensil dari James."
Aku merebut pensil yang tengah dipegang oleh James dengan sedikit paksa.
"Sir, sebenarnya Peter hanya ingin meminta izin ke toilet. Biarkan dia pergi sebelum sesuatu yang mungkin memalukan terjadi, Sir."
Seluruh isi kelas tertawa begitu riuh segera setelah James mengucapkan kalimat itu. Apa yang dia lakukan? Memalukan. Aku mengerutkan kening, memandang penuh heran apa yang dilakukan oleh James. James memberi kode mata padaku, kakinya menendang keras kursi yang tengah kududuki dan aku segera mengerti apa yang dia maksud.
Aku sudah beranjak dari bangkuku ketika bersamaan dengan itu seorang wanita berkacamata muncul dari balik pintu.
"Maaf, Sir mengganggu sebentar. Aku mencari Peter Aston."
Ucap Ms.Anne. Wanita itu adalah wali kelasku. Terlihat sorot matanya mengatakan bahwa ada hal yang penting yang ingin dia sampaikan. Situasi ini semakin membuatku bingung. Antara menemui Ms.Anne atau menolong Claire. Sebelum aku berpikir lebih lama, Ms.Anne sudah menarikku menuju ke kantornya.
POSTED BY Unknown ON Thursday, 11 April 2013 @ 13:52