CHAPTER 2
James
Hei, apa-apaan ini? Bagaimana dengan Claire jika Peter pergi dengan Ms.Anne? Otakku terus berputar seiring menghilangnya Peter bersama Ms.Anne dari pandanganku. Beberapa detik kemudian tanpa dikomando kakiku beranjak dan..
"Maaf Sir, ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan Ms.Anne. Bolehkah saya ikut dengan Peter?"
Aku bahkan tak menyadari apa yang baru saja keluar dari mulutku. Raut wajah Sr.Jo kini berubah, seakan-akan dia bertanya 'apa yang terjadi disini'. Setelah aku melihat anggukan kepala dari Sr.Jo -yang menurutku sedikit dipaksakan-, seketika itu juga aku memanfaatkan kesempatanku dan berlari menyusuri lorong. Aku menuruni tangga dengan cepat menuju ke lapangan. Aku bahkan tak mempercayai apa yang telah kulakukan sejauh ini. Bahkan terlintas dipikiranku, bagaimana jika Claire.. Gadis bodoh itu benar-benar.. Ah, pikiranku sedang kacau. Atau mungkin aku memang sudah dirasuki oleh Peter? Yah, sangat lucu.
Tepat saat aku berlari, bel tanda pergantian jam pelajaran berbunyi. Rupanya gadis bodoh itu sudah berdiri di tengah hujan selama hampir 2 jam pelajaran, gumamku.
Langkahku terhenti, sementara nafasku tersengal-sengal. Aku sudah berdiri di seberang lapangan. Aku melihat Claire. Tampak seragamnya basah kuyup, tubuhnya menggigil dan ia berjalan tepat ke arahku. Pandangannya datar, pucat. Selangkah demi selangkah ia berjalan. Aku sempat berharap ia akan memasang ekspresi yang tidak wajar saat melihatku namun tidak. Pandangan matanya tampak kosong dan bahkan ia tak mengucap sepatah kata pun saat jarak kami semakin dekat. Tepat saat kakinya melangkah sejajar dengan kakiku berdiri, tubuhnya terhuyung kedepan dan refleks aku meraihnya. Dia terjatuh. Nafasnya nyaris tersengal-sengal suhu tubuhnya pun panas.
"Claire?! Kau baik-baik saja? Hey, sadarlah.."
Aku menepuk-nepuk pipinya namun matanya masih tetap terpejam. Aku mulai panik bahkan kompleks kelas perempuan itu kini mulai ramai terlebih ruang kelas milik Ms.Frey. Ms.Frey yang merupakan dalang dari kejadian ini datang dengan tergopoh-gopoh setengah berlari mendatangiku. Sorot matanya terlihat shock dan tentu.. Ia sangat panik.
"Cepat bawa dia ke klinik, kau anak muda!"
Ms.Frey setengah berteriak padaku.
"Cih. Kau yang menyebabkan semua ini."
Segera setelah aku mengucapkan kalimat itu, raut wajah Ms.Frey tampak terkejut kemudian aku bergegas membawa Claire ke klinik. Keterlaluan, gumamku. Guru-guru di sekolah ini memang keterlaluan. Lihat saja apa yang akan terjadi padamu, nenek tua.
"James!"
Aku menoleh ke asal suara dan melihat -kalau tidak salah- kedua sahabat Claire. Rose dan Mary, ah untungnya ingatanku cukup bagus untuk sekedar mengingat nama mereka. Kedua gadis itu berlari menyusulku sementara langkah kakiku masih cepat.
"Terima kasih, untung kau datang."
Mary, gadis berdarah Asia berambut hitam lebat itu mengikuti langkah cepatku. Mereka berdua tampaknya cemas melihat keadaan sahabatnya itu.
"Nevermind, aku hanya kebetulan saja melewati lorong kompleks murid perempuan dan syukurlah aku bisa datang dan menolongnya."
Langkah kaki kami semakin cepat hingga akhirnya kami telah tiba di depan pintu klinik. Aroma obat mulai menusuk hidungku. Malvin -pengurus klinik- dengan cekatan membantuku. Dengan begitu, tugasku selesai. Tanpa mereka sadari, aku keluar meninggalkan ruangan itu dan bergegas kembali ke ruang kelas. Aku menarik nafas dan mengulum senyum. Kau berhutang padaku, Pete.
Claire
Aku membuka mata perlahan. Aroma khas klinik membuatku tersadar dan pandangan pertama saat kubuka mata adalah sosok Rose dan Mary.
"Syukurlah kau sudah sadar, Claire."
Ucap Rose senang.
"Bagaimana bisa aku berada disini?"
Tanyaku bingung. Aku hanya ingat saat kulihat langit berputar dan hujan yang deras masih mengguyur samar-samar tampak sosok laki-laki yang kulihat. Ah, bahkan penglihatanku saat itu sangatlah buruk. Selanjutnya aku tidak ingat apa-apa lagi.
"Kau pingsan tadi saat kau di lorong setelah 2 jam pelajaran berdiri ditengah hujan.Dan seseorang membawamu kemari."
Terang Mary. Aku mengerutkan kening. Jadi yang kulihat itu benar-benar nyata? Siapa? Mungkinkah Peter? Tapi aku tak ingat kapan dia turun ke lapangan. Yang kulihat justru dia tengah keluar bersama seorang guru.
"Kau tahu? Kami sangat mencemaskanmu. Ms.Frey memang tak punya perasaan."
Kata Rose yang memang tampak mengacuhkan rasa penasaranku. Apa dia sengaja mengalihkan perhatianku?
"Sebentar lagi. Nenek tua itu pasti kena marah Ms.Ryana. Kita lihat saja. Ms.Ryana pasti akan menghabisinya setelah tahu murid kesayangannya pingsan karena Ms.Frey."
Tambah Mary menggebu-gebu. Sementara mereka asyik berceloteh, pikiranku masih berputar. Tadi memang ku lihat Peter tengah melihatku. Mungkin memang dia yang menolongku. Ah, aku berharap memang dia orangnya.
Aku melirik jam di dinding. Pukul 12.
"Kalian berdua menungguku? Sejak kapan.."
"Kami berdua menunggumu sejak pukul.. Umm sekitar pukul 9 pagi dan kau sudah tertidur pulas hampir 3 jam lamanya."
Rose menjawab sembari mengibaskan rambut blonde panjangnya. Dia memang gadis pesolek, berbeda dengan Mary gadis pintar yang selalu tampil apa adanya dan sederhana.
"Bagaimana keadaanmu, Claire?"
Malvin, pengurus klinik bertubuh besar datang menghampiri kami.
"Aku sudah tidak apa-apa. Bolehkah aku kembali ke ruang kelas?"
Aku bangun dari posisi tidurku dan akan beranjak dari ranjang ketika tiba-tiba aku menyadari bahwa kini aku sudah berganti seragam memakai celana olah raga dan sebuah kemeja yang sedikit kedodoran untukku.
"Apa-apaan ini? Siapa yang memakaikanku pakaian ini?!"
Aku bahkan tak menyadari nada suaraku meninggi dan menatap tajam ke arah Malvin. Wajah Malvin tampak terkejut sementara Rose dan Mary saling berpandangan.
"Tung.. Tunggu.. Bukan aku.. Tentu saja bukan saja aku! Mereka lah yang memakaikannya!"
Malvin menunjuk ke arah Rose dan Mary. Mereka menertawakan sikap Malvin yang tampak salah tingkah.
"Haha.. Kau ini.. Seharusnya kau tidak berburuk sangka dengannya! Mana mungkin aku dan Rose membiarkannya. Lagipula Malvin bukan laki-laki seperti itu.."
Mary masih sedikit menahan tawa saat menjelaskannya padaku.
"Yah, Mary benar seandainya hal itu benar-benar dilakukan pun, Peter tidak akan membiarkan Malvin hidup."
Tambah Rose yang langsung diikuti kekehannya yang renyah. Malvin tampak semakin terpojok dan semakin salah tingkah.
"Okay Claire, apakah kau masih ingin kembali ke kelas setelah menyadari apa yang kau kenakan saat ini?"
Rose melihatku, tepatnya seperti menilai bagaimana dan seperti apa seleraku dalam berpakaian. Ya. Mungkin mereka benar juga. Aku tak mungkin kembali ke kelas dengan penampilan seperti ini.
"Apa kalia tidak ingin ke kelas?"
Tanyaku pada Rose dan Mary.
"Tentu.. Setelah ini kami akan kembali."
Jawab Mary yang diikuti oleh anggukan setuju Rose.
"Baiklah, aku akan tetap disini."
"Pulang sekolah akan kami ambilkan seragammu dari laundry."
Tambah Rose sebelum mereka keluar dari klinik.
"Kutinggalkan cokelat panas disini. Aku akan memberimu obat penurun panas dan penambah darah. Makanlah roti dan minumlah cokelat itu sebelum meminumnya. Aku juga akan kembali ke kelas. Lebih baik kau tetap beristirahat agar tenagamu kembali pulih."
Malvin berceloteh panjang lebar sebelum ia menyusul Rose dan Mary yang meninggalkan klinik.
"Yes, ma'am. Thankyou so much."
Aku sedikit bergurau dengan kalimat itu, setelahnya hanya ada aku seorang diri di ruangan sepi itu. Aku menghela nafas panjang dan memejamkan mata sejenak. Sungguh hari yang melelahkan.
POSTED BY Unknown ON Saturday, 13 April 2013 @ 20:55