homePROFILETAGBOARDAFFILIATEStwitterfollow
Farewell
 CHAPTER 14

Peter

It's two A.M.
Feelin' like I just lost a friend.
Hope you know it's not easy, easy for me.

Aku dan James sudah berada di kamar asrama sepulang sekolah tadi. Hujan rupanya masih mengguyur meski tidak sederas pagi tadi. Kamar yang biasanya tampak penuh dengan barang-barang kini terlihat lebih rapi dan bersih. Seluruh barang-barangku dan seluruh pakaianku sudah tertata rapi di dalam koper besar.
"Ku kira membereskan seluruh barangku disini akan kulakukan setelah pesta kelulusan. Tapi ternyata dugaanku salah."
Tidak ada respon. James masih tidak bergeming dengan mata yang masih terpejam. Tapi aku tahu ia tidak sedang benar-benar tidur.
"Begitu cepatnya aku meninggalkan tempat ini."
Ucapanku memecahkan keheningan malam. Kini James yang tengah berbaring di sofa menoleh ke arahku kemudian melayangkan pandangannya ke langit-langit kamar. Beberapa detik tak ada tanggapan, hanya terdengar dengkuran tidur Steve. James menghela nafas.
Read more »
POSTED BY Unknown ON Friday, 25 April 2014 @ 11:37
It's Rain
 CHAPTER 13
Peter

Hari ini aku berangkat ke sekolah hanya untuk mengurus kepindahanku esok hari. Hujan sudah mengguyur Kota Seabrook sejak pagi tadi. Mataku menangkap beberapa orang tengah sibuk dengan jas hujan dan payung mereka, sementara pikiranku mengembara entah kemana. 
"Pete, sudah berapa kali aku memanggilmu dan kau tak mendengar?"
Suara James menyadarkan lamunanku. Sandwich yang sedari tadi ada didepanku pun belum tersentuh.
"Oh, maaf James. Ada apa?"
Dia berdecak, menggelengkan kepala menatapku heran.
"Peter, aku hanya ingin bertanya, jam berapa kau akan berangkat besok?"
"Umm.. Pukul 5 sore aku harus sudah berada di bandara. Kenapa James?"
"Kalau begitu, kau mempunyai waktu sebelum pukul 5 sore, bukan? Kenapa tidak kau pakai kesempatan akhir itu untuk mengajak Claire ke suatu tempat? Ya, semacam 'pesta' perpisahanmu dengannya sebelum kalian tidak dapat bertemu untuk jangka waktu yang lama."
Kata James serius. Aku sedikit heran mengapa tiba-tiba ia membicarakan Claire di depanku, seakan ia tahu apa yang sedang kupikirkan saat ini.
"James.. Aku tidak tahu dari mana kau bisa mendapatkan ide cemerlang itu."
Aku menyeringai lebar diikuti senyum bangga James.
"Aku sudah tahu bahwa aku brilian, Pete. Kau sendiri tahu hal itu. Oh ya, ditambah lagi mobilmu yang kini dapat kau gunakan lagi setelah kau keluar dari asrama. Itu membuatku iri. Kau tentu bisa mengajaknya berkeliling kota dengan mobil mahalmu itu."
Read more »
POSTED BY Unknown ON Thursday, 24 April 2014 @ 16:23
CHAPTER 12

Peter

James sudah memberitahuku petunjuk jalan menuju ke asrama perempuan. Dia memperingatkan aku untuk berhati-hati dan jangan sampai tertangkap basah oleh penjaga asrama disana. Jika aku ketahuan tengah berada disana, tepatnya berada di salah satu kamar murid perempuan, besar kemungkinan aku akan di drop out dari sekolah ini. Namun itu sama sekali bukan masalah besar mengingat bahwa sudah pasti aku akan keluar dari sekolah ini tanpa perintah dari pihak asrama. Satu hal yang ku cemaskan adalah jika Claire ketahuan sedang bersamaku. Ya, saat ini. 
Rose dan Mary sudah keluar dari kamar dan saat ini Claire berada didepanku, tengah menatapku. Wajahnya pucat, pipinya memerah karena demam. Perlahan aku berjalan ke arahnya. Tampak dari wajahnya ia begitu terkejut seakan tak percaya akan kehadiranku disitu. 
Aku duduk di tepi ranjangnya, mengambil sehelai tissue dan membersihkan darah yang keluar dari hidungnya.
"Apakah.. Ini sakit, Claire?"
Tanyaku pelan. Ia hanya terdiam, tak menjawab pertanyaanku.
"Melihatmu seperti ini.. Benar-benar menyiksaku."
Tambahku.
"Pete..?"
"Ya..?"
"Apa yang ingin kau bicarakan denganku malam-malam seperti ini? Apakah itu berita buruk?"
Tanya Claire dengan suara serak. Matanya berkaca-kaca. Bagaimana dia bisa.. Oh Tuhan..
Read more »
POSTED BY Unknown ON Saturday, 29 March 2014 @ 14:53
Hey, Here I am..
Hai, akhirnya aku muncul dalam tulisan ini. Aku udah nulis blog ini sejak dari aku kelas 2 SMA. Dan sekarang aku kelas 3 SMA. Hmm.. Sebenernya, ide ku buat tulisan ini muncul saat aku duduk dikelas, dan waktu itu sedang pelajaran akuntansi. Pertamanya, aku menulis cerita Peter-Claire ini sama temen sebangkuku..Terus gak tau kenapa berlanjut sampai beberapa lembar halaman buku tulis. Lalu, muncul ideku buat nulis lagi di blog. Mmm, soal jalan ceritanya sih, sebenernya udah kepikiran sejak dari pertama, dan belum aku lanjutkan.. Lalu tentang tata bahasanya, aku ingin menulis dengan gaya bahasa terjemahan dan terkesan agak formal. Yah, karena aku lebih menyukai novel-novel terjemahan dan jujur, aku bukan gadis yang hobby membaca novel. Aku gak mengikuti novel-novel terbaru, gak seperti temen-temenku yang hobby banget ngluarin uang demi membeli berlusin-lusin novel.  Aku lebih senang jika uang itu digunain buat beli baju, atau buat jalan-jalan :p
Sejujurnya, aku pengen nglanjutin cerita Peter-Claire ini, tapi aku gak punya waktu buat berlama-lama didepan layar laptop.. Selain banyak les mata pelajaran, kegiatanku juga padat.. Aku sering banget tidur.. Hobbyku tidur, sampe pernah sih, tidur siang sampai hampir 12 jam.. *straight face* Tapi, kalo di kelas aku jarang tidur lhoo.. 
Oh iya, aku kaget kalo temen-temenku yang baca cerita ini ngasih komentar yang positif, dan dari situ aku dapet semangat yang baru buat nulis..
Yaudah sih, gitu aja.. Tenang aja, aku bakal nglanjutin cerita ini kok.. Hehehe :) 
Kiri : Yemima, as my twin sis.
Tengah: Kezia. Iam.
Kanan: Karenhapukh, as my young sis.
POSTED BY Unknown ON Tuesday, 27 August 2013 @ 11:28
That Night
CHAPTER 11

Peter

 Thinking why does this happen to me? Why does every moment have to be so hard? Hard to believe it..


Aku tak tahu apa yang kupikirkan saat ini. Apa yang kurasakan saat ini pun tidak dapat kuungkapkan dengan kata-kata. Sepulang aku dan James dari lapangan basket, aku memberitahu Steve tentang semuanya. Dia tampak terkejut ketika mendengarnya. Bahkan untuk beberapa detik ia berpikir bahwa aku sedang bergurau ketika mengatakannya. Sebagai ucapan 'selamat jalan'nya untukku, ia berjanji akan membuatkan masakan yang tersulit baginya. Sesungguhnya, apapun yang dimasak oleh Steve -baik itu mudah ataupun sulit- semuanya terasa enak bagiku.
Kini aku tengah berbaring diatas ranjang, memandang langit-langit kamar yang sebentar lagi akan kutinggalkan. Sebenarnya, pikiranku saat ini dipenuhi oleh Claire. Bagaimana cara aku memberitahunya? Oh Tuhan.. Tolonglah aku.. Ku raih handphone yang sedari tadi tergeletak diatas meja. Yah, aku memutuskan untuk menghubunginya. Beberapa saat terdengar nada sambung namun Rose tak lekas menjawab telefonku. Aku mengulanginya dan.. Hasilnya nihil. Tak ada jawaban. Untuk yang ketiga kalinya, aku menekan tombol 'call'. Tidak biasanya.. Sedang apa gadis-gadis itu? Ah, aku mulai berpikiran macam-macam. Perasaanku tidak enak. Selang beberapa waktu, tersambunglah dengan suara wanita disana.
"Halo Pete.. Oh kebetulan sekali, aku bahkan akan menelefonmu. Claire sakit. Demamnya sangat tinggi, dan.. sepulang sekolah tadi ia sempat mimisan.."
"Tunggu, Rose.. Kau bilang Claire sakit? Dimana dia sekarang?"
Tanyaku memotong perkataan Rose. Aku mulai cemas mendengar nada suara Rose yang jelas terdengar gugup.
Read more »
POSTED BY Unknown ON Friday, 5 July 2013 @ 22:54
Click for the Older Chapter | all rights reserved desiree 2012