homePROFILETAGBOARDAFFILIATEStwitterfollow
That Night
CHAPTER 11

Peter

 Thinking why does this happen to me? Why does every moment have to be so hard? Hard to believe it..


Aku tak tahu apa yang kupikirkan saat ini. Apa yang kurasakan saat ini pun tidak dapat kuungkapkan dengan kata-kata. Sepulang aku dan James dari lapangan basket, aku memberitahu Steve tentang semuanya. Dia tampak terkejut ketika mendengarnya. Bahkan untuk beberapa detik ia berpikir bahwa aku sedang bergurau ketika mengatakannya. Sebagai ucapan 'selamat jalan'nya untukku, ia berjanji akan membuatkan masakan yang tersulit baginya. Sesungguhnya, apapun yang dimasak oleh Steve -baik itu mudah ataupun sulit- semuanya terasa enak bagiku.
Kini aku tengah berbaring diatas ranjang, memandang langit-langit kamar yang sebentar lagi akan kutinggalkan. Sebenarnya, pikiranku saat ini dipenuhi oleh Claire. Bagaimana cara aku memberitahunya? Oh Tuhan.. Tolonglah aku.. Ku raih handphone yang sedari tadi tergeletak diatas meja. Yah, aku memutuskan untuk menghubunginya. Beberapa saat terdengar nada sambung namun Rose tak lekas menjawab telefonku. Aku mengulanginya dan.. Hasilnya nihil. Tak ada jawaban. Untuk yang ketiga kalinya, aku menekan tombol 'call'. Tidak biasanya.. Sedang apa gadis-gadis itu? Ah, aku mulai berpikiran macam-macam. Perasaanku tidak enak. Selang beberapa waktu, tersambunglah dengan suara wanita disana.
"Halo Pete.. Oh kebetulan sekali, aku bahkan akan menelefonmu. Claire sakit. Demamnya sangat tinggi, dan.. sepulang sekolah tadi ia sempat mimisan.."
"Tunggu, Rose.. Kau bilang Claire sakit? Dimana dia sekarang?"
Tanyaku memotong perkataan Rose. Aku mulai cemas mendengar nada suara Rose yang jelas terdengar gugup.

"Sebenarnya kepala asrama menyuruhnya untuk dirawat di klinik tapi Claire menolaknya. Saat ini ia sedang di kamar.."
"Bi.. Bisakah aku berbicara dengannya?"
Sekali lagi, kalimat Rose terpotong.
"Tentu saja."
Apa yang terjadi? Aku sudah bangkit dari ranjang. Kakiku terus berjalan mondar-mandir  tak tentu arah. Aku meremas ujung jariku.
"Hey, Pete.."
Claire. Terdengar parau.
"Claire? Apa yang terjadi denganmu? Kau.. Kau baik-baik saja?"
"Tenanglah Pete.. Aku baik-baik saja.. Hanya sedikit demam.."
"Claire.. Oh tolong.. Kenapa kau tidak mau menuruti perintah kepala asrama? Rose bilang kau mimisan dan itu berarti kau butuh perawatan medis, Claire. Please, aku benar-benar mencemaskanmu.."
"Kau berlebihan Pete. Demam ini akan segera turun.."
Jawabnya. Aku sangat mengenalnya. Dia sedang tidak 'baik-baik saja'.
"Aku sedang bertanya, mengapa kau menolak untuk dirawat di klinik?"
 Tanyaku sekali lagi. Aku menghela nafas.
"Karena aku merasa itu tidak perlu, Pete.. Sungguh.."
Jawabnya sementara aku mendengar sesekali ia terbatuk.
"Kau selalu seperti itu Claire. Tidak pernah berubah. Apa kau sudah makan? Kau sudah meminum obatmu?"
Tanyaku dengan nada frustasi. Aku sudah berada di balkon karena seketika saja aku merasa udara disekitar bertambah panas.
"Ya, aku sudah makan dan aku sudah meminum obat. Aku akan segera sembuh.."
"Kau memang harus segera sembuh.."
Sebelum aku menyelesaikan ucapanku terdengar teriakan James yang tengah memanggil-mangil namaku dari dalam ruang kamar. Timing yang sangat tidak tepat. Apa yang James lakukan?
"Ya! Aku mendengarnya, James! Claire, katakan pada Rose, aku akan segera menghubungimu lagi. Ingat, jaga kondisimu. Aku benar-benar mengenalmu, Claire."
Ucapku sebelum aku menutup telefonnya. Aku segera melesat pergi dan mendatangi asal suara James yang memekakan telinga.
"Pete!Pete!"
James tak henti-hentinya berteriak sampai aku datang dan ia memasang wajah innocent nya.
"Ada apa? Kenapa kau berteriak-teriak?" 
Sahutku setengah jengkel.
"Lihatlah, sepertinya ini kiriman dari ayahmu. Menarik bukan?"
James menyodorkan sebuah paket berwarna cokelat. Aku menatapnya heran.
"Bukan, tidak mungkin jika dad yang mengirimkannya. Kau lupa bahwa lusa kami juga akan bertemu?"
Jawabku. Aku mengerutkan kening heran sementara tanganku mengotak-atik barang cokelat itu. Tidak ada nama pengirimnya, hanya tertera namaku disitu. Aku semakin penasaran dengan isinya.
"Cobalah kau buka, Pete."
Aku mengangguk setuju dan mulai membuka bungkusan yang berukuran kecil itu. Sebuah jam tangan.
"Jam tangan?"
Sahutku dan James hampir bersamaan. Kami berdua saling berpandangan dan aku hanya bisa mengangkat bahu. James merebut jam tangan itu dari tanganku ketika ia melihat ada yang janggal. Ia mengerutkan kening melihat tulisan dibalik jam tangan itu. 

Ingatlah untuk kembali ke asrama tepat waktu. Bannet.
"Bannet? Siapa Bannet? Ku pikir ini dari Claire."
Kata James masih dengan tatapan heran. Aku mencoba mengingat nama yang yang terdengar tidak asing bagiku. Bannet. Bannet.. Ah, gadis itu. Molly Bannet.
"Hey, apa kau kenal dengan pengirimnya?"
"Tidak, James. Aku tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya."
Jawabku. Lebih baik aku tidak memberitahukannya sekarang, atau dia akan menginterogasiku dan menyuruhku untuk menjelaskan kronologinya. James pasti juga pasti akan ribut mengingat ia tidak menyukai Molly. Tapi.. Kenapa gadis itu memberiku benda ini? Bahkan kami baru saja berkenalan.
"Oh, okay. Secret admirer. Kau semakin populer saja, Pete. Bahkan disaat-saat terakhir kau tinggal di asrama ini. Besar kemungkinan itu dari seorang perempuan. Kau tidak berpikir bahwa ada gay di sekolah ini bukan? Tapi kenapa harus arloji  yang diberikan untukmu? Apakah kau pernah terlambat mengikuti pelajaran? Atau.. kembali ke asrama, mungkin? Sangat masuk akal."
"Berhentilah mengejekku James."
Aku memasukkan kembali arloji itu ke dalam kotak penyimpanan dan meletakkannya di laci meja. Pikiranku masih sibuk dengan.. Ah.. Apapun itu.
"Pete, mandilah. Sebelum ruangan ini dipenuhi oleh bau yang tidak sedap."
Sahut James, melemparkan handuk ke arahku.
"Baiklah sebelum kau mengoceh lebih banyak."
James menyeringai sebelum meninju lenganku. Hari ini, sungguh menguras tenaga dan pikiran.

 Claire

Aku terbaring lemah di ranjang. Seluruh tubuhku lemas dan demam. Persendianku terasa nyeri, kepalaku terasa sangat berat. Rose dan Mary dengan setia dan sabar merawatku. Memberiku obat, bahkan menyuapiku.
"Claire, kau benar-benar sakit."
Ucap Mary. Ia menatapku dengan tatapan prihatin.
"Mary benar. Suhu badanmu sangat panas. Itulah mengapa kau sempat mimisan. Berhentilah berucap bahwa kau baik-baik saja pada Peter."
Sahut Rose sembari menuangkan air panas kedalam gelas. Aku hanya bisa membalasnya dengan seulas senyum. Sebisa mungkin aku membuat mereka tidak mencemaskanku. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam dan satu jam telah lewat sejak Peter menelefon. Ia sudah berpesan padaku bahwa ia akan menelefonku lagi, namun hingga detik ini belum ada satu pun panggilan darinya.
"Claire! Hidungmu berdarah lagi!"
Seru Mary dan sontak aku memegang hidungku, benar. Cairan merah sudah menetes dari sana.
"Oh, tidak. Rose tolong ambilkan tissue di atas meja. Claire, tenanglah.."
Aku mengangguk perlahan, kemudian Rose datang membawakan sekotak tissue untukku. Segera aku meraihnya, mengusapkannya ke hidungku. Ah.. Bau anyir darah. Aku benar-benar membencinya.
"Claire, jangan mendongakkan kepalamu. Berbahaya."
Kata Rose ketika aku hampir mendongakkan kepalaku berharap darah itu masuk kembali namun aku tahu usaha itu sia-sia. Darah yang keluar tidak segera berhenti, ketika tiba-tiba dari arah balkon mucul sesosok laki-laki. Datang dengan terengah-engah dan saat aku melihatnya, aku tidak mempercayai penglihatanku sendiri.
"Peter?!"
Sontak kedua sahabatku itu berseru bersamaan. Aku mengerjap untuk beberapa detik. Apakah aku sedang bermimpi? Aku menahan nafas. Ya, benar. Itu Peter. Untuk beberapa saat suasana berubah hening, sebelum Rose dan Mary menoleh ke arahku dengan cepat. Terbaca dari wajah mereka, mereka sangat shock dan -semua orang- tidak mengira akan terjadi hal seperti ini. Tanpa dikomando, suaraku memecah keheningan..
"Bagaimana kau bisa masuk.. Kesini, Pete?"
Itulah pertanyaan pertama yang berhasil ku ucapkan sementara banyak sekali pertanyaan yang masih bertebangan di otakku.
"Pertanyaan yang bagus."
Timpal Rose masih dengan tatapan tidak-percaya-nya.
"Aku kabur dari asrama laki-laki, menyusuri hamparan kebun anggur, dan memanjat tembok hingga tiba di balkonmu."
Jawab laki-laki itu polos. Tiga orang gadis di ruangan ini saling berpandangan heran dan ah, sungguh sulit dipercaya. Bahkan kulihat mulut Mary menganga seakan ia tak percaya atas apa yang dikatakan Peter.
"Uhm.. Oh.. Kini aku mengerti bagaimana cinta itu mengalahkan segalanya.. Dan.. uhmm, kelihatannya kau begitu mencemaskan Claire.. Hingga kau.. Ah ya, aku akan menitipkannya padamu untuk beberapa menit. Tapi awas ini adalah kamar perempuan, jangan sekali-sekali kau berpikiran macam-macam, Pete."
Ucap Rose dengan gugup dan terbata yang kemudian bergegas pergi menyeret Mary keluar dari ruangan itu. Bunyi pintu kamar ditutup dan kini aku menyadari hanya ada aku dan Peter yang masih terjebak dalam keheningan. Aku masih menatapnya lurus tanpa mempedulikan lagi tissue yang terlanjur basah oleh cairan merah yang terus keluar dari hidungku. Aku menatapnya seakan takut jika aku memalingkan wajah, sosok itu akan hilang dari pandanganku. Tetapi tidak. Dia tetap berdiri disana, menatapku lembut.
 
 






 


POSTED BY Unknown ON Friday, 5 July 2013 @ 22:54
Click for the Older Chapter | all rights reserved desiree 2012 | Click for the Newer Chapter