CHAPTER 10
James
Aku terpaku mendengar percakapan Peter dengan orang tuanya ditelefon. Bahkan butuh beberapa detik untuk menyaring semua yang ada di kepalaku saat ini. Hingga tanpa diperintah, mulutku bertanya:
"Apakah itu semua benar, Pete?"
Dia menoleh ke sumber suara. Wajahnya nampak sangat terkejut melihat keberadaanku. Dia mengerjap dan bangkit berdiri dari sofa. Kini jarak kami hanya sekitar satu setengah meter saja. Suasana hening.
"Lusa.. Lusa kau.. Kau benar-benar akan pergi?"
Tanyaku lemas, mengharapkan jawaban yang salah. Namun dia hanya terpaku ditempat. Handphone dari tangannya terjatuh. Tatapannya sulit dibedakan antara marah, kecewa, dan sedih. Seumur hidupku, baru sekali ini melihatnya meneteskan air mata.
"Kau.. Sudah mendengar.. Semuanya."
Jawabnya. Parau. Jawaban yang benar-benar tidak ingin kuharapkan. Tapi.. Bagaimana bisa.. Keadaan ini benar-benar tidak dapat dijelaskan. Tanpa sadar kakiku melangkah cepat keluar dari dorm. Entah apa yang baru saja kulakukan namun rasanya aku ingin keluar dari ruangan itu secepatnya. Separah inikah aku sebagai teman baiknya sehingga ia tak pernah menceritakan hal penting itu padaku? Apakah aku benar-benar jauh dibawahnya?
"James!"
Terdengar Peter memanggilku serta derap langkah yang menyusulku. Kupercepat langkah kakiku, bahkan kini aku benar-benar muak melihat wajahnya. Tak habis-habisnya aku berpikir bahwa.. Aku benar-benar payah. Peluh mulai bercucuran dari dahiku.
Kami tiba di suatu tempat. Lapangan basket. Sinar matahari sangat terik. Derap langkah ku terhenti. Nafasku tersengal-sengal sementara kulihat Peter menatapku tajam. Lapangan itu sepi, hanya ada kami berdua. Aku melihat sebuah bola basket tergeletak di tengah lapangan. Tanpa sadar, aku mengambilnya dan mendrible bola orange itu. Suara pantulan bola memecah keheningan.
"Kau tahu? Aku selalu iri dengan hidupmu. Kau memiliki segala yang kau ingini. Melebihiku!"
Seruku. Aku melemparkan bola yang ada ditanganku ke arah Peter. Ia sudah jelas bisa menangkapnya. Kulihat wajahnya penuh dengan peluh sementara nafasnya masih tersengal-sengal.
"Kau terlihat payah, Pete!"
Aku berlari ke arahnya, mencoba merebut bola ditangannya namun ia dengan cepat menghindar. Ia mendrible bola dengan lincah. Permainan dimulai. Ia menatapku tajam, ia serius dengan apa yang tengah dilakukannya. Aku tersenyum sinis. Tentu aku menerima tantanganmu, Pete. Dengan senang hati.
Kami saling bertanding dalam diam hanya sesekali terdengar erangan dan nafas yang terbata-bata. Sepertinya permainan ini berubah menjadi liar. Aku dan Peter bermain dengan kasar hingga tanpa sadar kancing seragam yang masih dipakai Peter terlepas beberapa buah. Aku bahkan harus mengimbangi permainannya yang terlampau gesit dari yang ku perkirakan. Sepertinya ia melampiaskan semuanya. Ya, begitupun aku. Mata kami saling menatap tajam. Semua pertemanan kami terputar dalam benakku. Selama hampir 13 tahun hingga sampai detik ini, ia masih menjadi temanku. Bahkan seperti keluarga sendiri bagiku. Sangat pedih rasanya mengetahui kenyataan bahwa ia akan pergi dan tak tahu kapan ia kembali. Terlebih pahit, mengingat laki-laki itu tidak berucap sepatah katapun tentang kepindahannya. Jika aku tidak dengan sengaja mendengarnya, aku tak yakin ia benar-benar mengatakannya padaku.
'Blush!'
Aku berhasil mencetak satu point. Tak ada lagi pasangan emas dalam team basket sekolah ini. Cih. Ini hal yang paling kubenci. Aku berjalan tertatih-tatih ke arahnya. Aku mencengkeram kerah bajunya. Tatapanku nanar.
"Apa kau kurang puas dengan hidupmu disini?! Bagaimana bisa kau meninggalkan semuanya dengan mudah?!"
Seruku padanya. Ia membisu dan membalas tatapanku.
"Mana perjuanganmu?! MANA PERJUANGANMU, PETE?! HA?!"
Teriakanku semakin keras. Aku mendorongnya dengan kuat hingga Peter terjatuh sementara tubuhku terhuyung kebelakang.
"Aku sudah berusaha! BAHKAN KAU TAK MELIHATNYA!!"
Teriaknya terdengar sangat memilukan. Aku bahkan sempat tersenyum sinis mendengarnya.
"Cih. Kau belum berusaha!"
Ya, aku memukul rahangnya. Aku benar-benar muak. Tangannya tak sempat menepis pukulanku. Ia mengelap darah yang keluar dari sudut bibirnya. Kulihat laki-laki itu tersenyum. Pahit. Aku menghampirinya dan mencengkeram kerah bajunya untuk yang kedua kalinya. Namun dengan cepat ia berhasil menghindar kemudian membalas pukulanku.
"Sekarang.. Kau.. Bisa melihat, aku sudah berusaha kan?"
Ucapnya dengan terbata-bata. Ah, bau anyir darah mulai keluar dari sudut kiri bibirku. Aku hanya membalas dengan senyuman sinis. Aku menjatuhkan tubuhku di lapangan, menatap lurus langit yang telah berubah senja. Peter menjatuhkan diri di sebelahku, berbaring dan tubuhnya terlentang. Nafas kami tersengal-sengal, peluh bercucuran. Tempat ini begitu hening, hanya ada kami berdua.
"Aku tahu kau memang bodoh, tapi tak kusangka kau bisa sebodoh ini.."
Kataku, sementara mataku terpejam.
"Bahkan kau iri dengan orang bodoh sepertiku."
Cih. Aku menyeringai mendengar jawabannya.
"Aku tahu bahwa sebenarnya kau iri dengan permainan basketku, bukan?"
"Aku bisa saja menyaingimu, jika aku mau."
Jawabnya santai.
"Itulah alasannya kau menjadi bodoh seperti sekarang ini."
"Bagaimana bisa hal itu dijadikan alasan?"
"Karena.. Memang itulah yang sekarang ada dikepalaku.. Ingatlah Pete, kembalilah kesini. Entah berapa tahun lagi kau akan kembali, tapi tentu kau masih ingat satu hal kan?"
"Apa itu?"
"Kau tentu masih ingat. 'Hutang'mu. Kau belum sempat membayarnya."
Aku tersenyum mengingat kejadian itu. Rasanya baru kemarin aku menolong Claire pingsan.
"Oh.. Yah.. Aku ingat sekarang. Tenang saja, aku tak akan melupakannya."
Jawabnya. Hari bertambah semakin sore.
"Sebaiknya kita lekas ke dorm. Sebelum matahari tenggelam. Kau juga harus memberitahu Steve tentang hal ini."
Kataku padanya. Setelah itu kami bergegas pulang, membawa balutan luka yang masih baru. Bukan luka akibat pukulan Peter, namun sebuah kekecewaan yang belum terbayarkan.
POSTED BY Unknown ON Wednesday, 15 May 2013 @ 13:17