CHAPTER 12
Peter
James sudah memberitahuku petunjuk jalan menuju ke asrama perempuan. Dia memperingatkan aku untuk berhati-hati dan jangan sampai tertangkap basah oleh penjaga asrama disana. Jika aku ketahuan tengah berada disana, tepatnya berada di salah satu kamar murid perempuan, besar kemungkinan aku akan di drop out dari sekolah ini. Namun itu sama sekali bukan masalah besar mengingat bahwa sudah pasti aku akan keluar dari sekolah ini tanpa perintah dari pihak asrama. Satu hal yang ku cemaskan adalah jika Claire ketahuan sedang bersamaku. Ya, saat ini.
Rose dan Mary sudah keluar dari kamar dan saat ini Claire berada didepanku, tengah menatapku. Wajahnya pucat, pipinya memerah karena demam. Perlahan aku berjalan ke arahnya. Tampak dari wajahnya ia begitu terkejut seakan tak percaya akan kehadiranku disitu.
Aku duduk di tepi ranjangnya, mengambil sehelai tissue dan membersihkan darah yang keluar dari hidungnya.
"Apakah.. Ini sakit, Claire?"
Tanyaku pelan. Ia hanya terdiam, tak menjawab pertanyaanku.
"Melihatmu seperti ini.. Benar-benar menyiksaku."
Tambahku.
"Pete..?"
"Ya..?"
"Apa yang ingin kau bicarakan denganku malam-malam seperti ini? Apakah itu berita buruk?"
Tanya Claire dengan suara serak. Matanya berkaca-kaca. Bagaimana dia bisa.. Oh Tuhan..
"Claire.. Jangan memikirkan hal seperti itu.. Pikirkan dulu kesehatanmu.."
Sepertinya suaraku sedikit bergetar.
"I have bad feeling, Pete.."
"Aku datang kesini hanya untuk memastikan bahwa keadaanmu baik-baik saja.. That's it.."
Dengan cepat ia menggelengkan kepalanya, kemudian detik berikutnya air mata pertama jatuh membasahi pipinya. Seketika itu hatiku mencelos.
"Bagaimana bisa kau mencoba berbohong didepanku, Pete?"
Bahkan kini suara Claire hampir tak terdengar dengan jelas. Gadis itu menangis dan semua karena kesalahanku.
"Semuanya.. Semuanya sudah berakhir, Claire.."
Jawabku terdengar parau. Menyedihkan. Untuk mengucapkan sepatah kata pun terasa sangat sulit bagiku.
Kemudian terdengar isakan pelan. Memilukan.
"Lalu.. Lalu apa?"
Tanyanya dengan hati-hati.
"Aku akan.. Meninggalkan Inggris.. Lusa.. Aku akan melanjutkan studiku di Jepang.. Aku tak kuasa menghadapi orang tua ku yang terus menerus mendesakku untuk tinggal disana.. Aku bahkan tak berani menatap matamu saat ini.. Ah.. Maafkan aku.. Claire.."
Aku tak sanggup melanjutkan kalimatku. Lidahku terasa kelu. Kepalaku tertunduk. Dan kudengar ia menghela nafas pelan.
"Lusa..? Lalu.. Kapan kau akan kembali..? Disini..?"
"Aku tidak tahu.. Aku benar-benar tidak mengerti situasi yang akan kuhadapi.."
Parau. Claire menggenggam jemariku dengan erat. Isaknya semakin keras. Seakan ia memohon agar aku menarik ucapanku. Aku tidak percaya akan apa yang sudah ku buat padanya.
"Peter.. Bisakah kau tinggal lebih lama disini?"
"Aku ingin sekali menghabiskan waktuku disini denganmu, Claire.. Tapi.. Aku sudah berusaha semampuku dan aku tidak bisa.. Dad ingin aku mengurus perusahaannya di Tokyo."
Ku harap Claire bisa menerima kenyataan ini. Tapi untuk beberapa saat, ia tidak merespon. Lama kami saling terdiam. Hening. Kulihat Claire sesekali menghela nafas. Kurasa gadis itu sedang berusaha menenangkan diri.
"Baiklah Pete.. Aku tidak mau menjadi penghalang kesuksesanmu. Pergilah.. Tapi kumohon.. Berjanjilah satu hal padaku."
Kemudian ia mengangkat jari kelingkingnya.
"Berjanjilah kau akan meluangkan waktumu untuk sekadar menghubungiku baik itu lewat telefon maupun e-mail. Dan.. Kau tahu, gadis sepertiku tidak akan pernah kau jumpai dimanapun, termasuk saat kau di Tokyo nanti.. Jadi.. Ya, kau tahu kesimpulannya."
Aku tersenyum mendengar ucapannya. Ia menyunggingkan seulas senyum. Manis.
"Tentu saja Claire.. Aku berjanji padamu."
Balasku sembari mengaitkan kelingkingku dengan miliknya. Detik ini aku semakin tersadar bahwa kehadirannya di hidupku begitu berarti dan seketika perasaan takut menyelimutiku. Aku benar-benar sadar.. Bahwa aku terlanjur takut untuk kehilangannya.
Claire
I bet this time of night you're still up.
I bet you're tired from a long hard week..
Aku menangis dipundak Rose tengah malam seperti ini. Air mata yang sedari tadi ku tahan akhirnya tumpah juga. Aku hanya tidak ingin Peter melihatku menangis. Aku tahu, dia sudah menanggung begitu banyak beban, dan aku tidak ingin membuatnya semakin tertekan.
Seusai Peter pergi dari kamar, Rose dan Mary langsung menghampiriku.
"Apa yang terjadi, Claire?"
Tanya Mary heran. Mungkin ia melihat mataku yang sembab.
Aku menceritakan semuanya pada kedua sahabatku itu. Beberapa kali suaraku hampir tak terdengar karena isakanku yang semakin kuat. Dadaku sesak setiap kali aku menyebut nama Peter. Bahkan aku tak merasakan pusing karena demam lagi tapi kenyataan ini membuatku lebih sakit.
Malam kini sudah semakin larut. Namun bau harum parfum Peter masih jelas kurasakan.
POSTED BY Unknown ON Saturday, 29 March 2014 @ 14:53