CHAPTER 13
Peter
Hari ini aku berangkat ke sekolah hanya untuk mengurus kepindahanku esok hari. Hujan sudah mengguyur Kota Seabrook sejak pagi tadi. Mataku menangkap beberapa orang tengah sibuk dengan jas hujan dan payung mereka, sementara pikiranku mengembara entah kemana.
"Pete, sudah berapa kali aku memanggilmu dan kau tak mendengar?"
Suara James menyadarkan lamunanku. Sandwich yang sedari tadi ada didepanku pun belum tersentuh.
"Oh, maaf James. Ada apa?"
Dia berdecak, menggelengkan kepala menatapku heran.
"Peter, aku hanya ingin bertanya, jam berapa kau akan berangkat besok?"
"Umm.. Pukul 5 sore aku harus sudah berada di bandara. Kenapa James?"
"Kalau begitu, kau mempunyai waktu sebelum pukul 5 sore, bukan? Kenapa tidak kau pakai kesempatan akhir itu untuk mengajak Claire ke suatu tempat? Ya, semacam 'pesta' perpisahanmu dengannya sebelum kalian tidak dapat bertemu untuk jangka waktu yang lama."
Kata James serius. Aku sedikit heran mengapa tiba-tiba ia membicarakan Claire di depanku, seakan ia tahu apa yang sedang kupikirkan saat ini.
"James.. Aku tidak tahu dari mana kau bisa mendapatkan ide cemerlang itu."
Aku menyeringai lebar diikuti senyum bangga James.
"Aku sudah tahu bahwa aku brilian, Pete. Kau sendiri tahu hal itu. Oh ya, ditambah lagi mobilmu yang kini dapat kau gunakan lagi setelah kau keluar dari asrama. Itu membuatku iri. Kau tentu bisa mengajaknya berkeliling kota dengan mobil mahalmu itu."
"Oh mulai lagi. Berhentilah berucap seakan kau tidak memilikinya, James. Apakah aku juga perlu mengajakmu juga?"
"Tidak, terimakasih. Aku tidak mau mengganggu waktu kalian berdua."
"Tawaranku hanya sekadar basa-basi James."
Jawabku, tertawa mengejek.
"Terserah kau saja Pete. Asalkan sepulang kau dari Tokyo, bawakan aku gadis Jepang, menurutku itu sudah lebih dari cukup."
"Ku kira kau sudah menemukan banyak wanita cantik disini, James."
"Peter, aku terlalu tampan untuk mereka.."
Timpal James yang langsung kubalas dengan gelak tawa yang cukup keras hingga beberapa orang ditempat itu melihat ke arah kami.
"Hey hey.. Apa maksud dari tertawamu itu Pete?"
"Haha.. Tunggu, kau mungkin benar. Tapi kurasa gadis-gadis itu lebih menyukaimu saat kau sedang bermain basket. Saat kau sedang memakai seragam sekolah dengan seenaknya seperti ini... Yah, aku tidak yakin.."
Aku menahan geli melihat raut wajah James yang masih tetap santai meski mendengar ejekanku.
"Aku tidak mengerti yang kau bicarakan Pete."
"They think you are a bad boy. Are you understand? Jadi rapikanlah bajumu dan sisirlah rambutmu itu."
"Yeah, I know. But bad boys attract good girls, right?"
"Sometimes."
James tak sempat menjawab ketika tiba-tiba seseorang mendatangi kami.
"Hey Pete dan.. hey... Jimmy.."
Molly. Gadis itu menghampiri kami dan sekilas aku melihat ekspresi James yang sangat jelas bahwa ia tidak suka akan kehadiran Molly.
"Jimmy? Sorry?"
James bertanya dengan sikap acuh.
"Namanya James, Molly. Kau salah menyebutkan namanya."
Sahutku membenarkan.
"Oh, maaf.. Maksudku James.."
Ulang Molly. Namun aku tahu ia juga sepertinya tidak mempedulikan itu. Kulihat James bahkan tidak menatapnya, melainkan lebih memilih untuk berkutat dengan i-phone nya. Aku tahu James kesal dengan sikap arogan Molly.
"Ada perlu apa kau datang kesini?"
Kataku memulai pembicaraan kaku ini.
"Kurasa aku harus kembali ke kelas, Pete. Aku baru saja mendapat pesan dari Rose bahwa Claire tidak masuk hari ini."
Kata James kemudian melesat pergi. Aku mendengar tekanan nada pada saat ia menyebut nama 'Claire'. Entah apa yang ingin ia maksudkan tapi sepertinya aku tahu apa yang ada dalam pikirannya.
"Claire?"
Tanya Molly seolah ia pernah mendengar nama itu sebelumnya.
"Ya, kau kenal dengannya?"
"Iya sepertinya aku pernah bertemu dengannya. Umm.. Kau kencan dengan gadis itu?"
"Ya, kami berpacaran sudah sejak lama."
Mungkin inilah perbincangan antara aku dan Molly yang diinginkan oleh James. Kulihat Molly tidak bergeming, hanya sekadar menganggukan kepalanya. Kelihatannya ia berusaha mengingat-ingat Claire.
"Kalau begitu tidak salah lagi, aku pernah bertemu dengannya beberapa waktu lalu. Kami mengenal satu sama lain."
Terang Molly. Aku tidak tahu mengapa ia tampak gugup.
"Oh okay.. Boleh ku ulangi pertanyaan awalku tadi?"
"Peter, sebenarnya aku datang kesini untuk.. Mengundangmu ke acara pesta ulang tahunku minggu depan. Tapi.. Kurasa akan lebih baik jika kau juga mengajak Claire."
"Aku senang kau mengundangku ke acara pesta ulang tahunmu. Tapi sayang sekali, sebenarnya mulai besok aku sudah tidak bersekolah disini lagi."
Raut wajah Molly berubah heran. Ia mengerutkan kening.
"Ya begitulah.. Aku akan pergi ke Tokyo bersama orangtuaku. Ini sama sekali bukan keinginanku.."
"Aku terkejut mendengarnya.. Aku tahu ini berat untukmu, tapi memang akan lebih baik jika kau menuruti nasihat orang tuamu. Kapan kau akan berangkat?"
"Besok. Besok aku sudah harus berangkat."
"Mendadak sekali.. Kalau begitu, ini perjumpaan terakhir kita di sekolah, Pete. Tapi.. Bolehkah kita tetap berhubungan?"
Tanyanya, dengan tangan mengangkat handphone.
"Oh, tentu saja."
Beberapa saat kami saling bertukar nomor handphone.
"Thanks, Pete. Kau bisa mengirim pesan singkat saat kau senggang atau saat kau memerlukan teman obrolan. Semoga kau menikmati hari-harimu nanti di Tokyo.."
"Tunggu Molly, apakah kau yang mengirimkan paket berisi jam tangan untukku?"
Tanyaku sebelum gadis itu pergi.
"Oh rupanya kau sudah menerimanya. Ya begitulah, anggap saja itu sebagai kenang-kenangan dariku. Sebagai teman."
Ucapnya dengan seulas senyum. Belum sempat aku menjawab, Molly bergegas pergi.
Begitulah hari terakhirku di sekolah ini. Setiap mataku memandang, ada begitu banyak memori yang terekam. Aku sangat berharap aku bisa kembali ke Inggris kapanpun aku mau.
POSTED BY Unknown ON Thursday, 24 April 2014 @ 16:23