CHAPTER 14
Peter
It's two A.M.
Feelin' like I just lost a friend.
Hope you know it's not easy, easy for me.
Aku dan James sudah berada di kamar asrama sepulang sekolah tadi. Hujan rupanya masih mengguyur meski tidak sederas pagi tadi. Kamar yang biasanya tampak penuh dengan barang-barang kini terlihat lebih rapi dan bersih. Seluruh barang-barangku dan seluruh pakaianku sudah tertata rapi di dalam koper besar.
"Ku kira membereskan seluruh barangku disini akan kulakukan setelah pesta kelulusan. Tapi ternyata dugaanku salah."
Tidak ada respon. James masih tidak bergeming dengan mata yang masih terpejam. Tapi aku tahu ia tidak sedang benar-benar tidur.
"Begitu cepatnya aku meninggalkan tempat ini."
Ucapanku memecahkan keheningan malam. Kini James yang tengah berbaring di sofa menoleh ke arahku kemudian melayangkan pandangannya ke langit-langit kamar. Beberapa detik tak ada tanggapan, hanya terdengar dengkuran tidur Steve. James menghela nafas.
"Besok malam tepat setelah malam ini, ketika kau melihat langit, bukan lagi langit Seabrook yang kau lihat. Melainkan langit Tokyo."
Hm. Aku tersenyum pahit mendengarnya.
"Bukan lagi harum panekuk yang kau hirup setiap pagi, bukan pula Steve yang kau lihat memakai celemek. Melainkan koki rumah yang digaji setiap bulannya."
Tambah James dengan tenang. Matanya kembali terpejam. Perlu beberapa saat untuk merenungi kata-kata James.
"Bukan suara nyaringmu lagi yang selalu membangunkanku. Bukan kau lagi yang yang menjadi lawan dan teman basketku. Kau tahu, James? Yang lebih parah, tidak ada kau saat pesta kelulusanku disana. Padahal aku sudah berencana saat pesta kelulusan, aku akan membeli berlusin-lusin kembang api dan kita akan meledakkan sekolah dengan itu. Sangat aneh rasanya jika bukan kau yang ku ajak untuk melakukan tindak kriminal itu."
Sahutku lirih, mengulum sebuah senyum. Mataku tetap terpaku pada rubik yang ada digenggamanku sedari tadi. Kulihat James masih terpaku di sofa dengan mata yang terpejam. Rupanya ia tersenyum mendengar ucapanku.
"Kau yang menang, Pete.. Tidak ada yang bisa kukatakan lagi."
Aku tidak akan pernah mempercayai ini ketika kulihat air mata yang keluar dari sudut mata laki-laki itu, dengan mata kepalaku sendiri. Aku menahan nafas sejenak, seakan tidak percaya dengan penglihatanku sendiri. Aku benar-benar mengenal sosok James. Ia yang biasanya sangat cerewet, menyebalkan, hiper-aktif, dan usil itu kini terlihat sangat berbeda. Ia tampak lain. Dan selama beberapa tahun aku bersamanya, baru sekali ini aku melihat sosok yang berbeda darinya.
Ya, lama kami terdiam. Jam dinding menunjukkan pukul 2 dini hari. Mungkin kami sama-sama menyibukkan diri dengan pikiran kami. Merenungi semuanya. Malam semakin sunyi, bahkan dengkuran Steve sudah tidak terdengar lagi. Samar-samar hanya terdengar musik yang mengalun dari radio.
"Ingatlah untuk benar-benar kembali, Pete.."
Rupanya itulah kalimat yang menutup malam terakhirku di Kota Seabrook ini. Setelahnya aku bahkan tidak bisa menjawab. Yang aku tahu, kembali ke Inggris adalah sebuah janji dengan diriku sendiri.
***
Aku benar-benar bisa membuka mataku ketika sinar matahari masuk melalui jendela kamar. Aroma harum masakan Steve sudah semerbak. Aku bangkit dari ranjang, kulihat James masih tertidur pulas di sofa dengan selimut yang berantakan. Aku tidak ingin membangunkannya sepagi ini dihari libur.
Aku melangkahkan kaki menuju ke balkon, memandangi hamparan kebun anggur yang luas. Ah, pagi yang cerah di langit Kota Seabrook.
Claire
I'm just listening to the clock go ticking
I am waiting as the time goes by
I think of you with every breath I take
I need to feel your heartbeat next to mine
You're all I see in everything
Aku bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan sarapan. Kedua sahabatku masih tertidur lelap dan aku tidak tega membangunkan mereka. Aku sedang membawa sepiring besar sandwich, ketika tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar. Aku mengerutkan kening heran menatap jam dinding yang menunjukkan waktu yang cukup pagi untuk orang berkunjung ke kamar asrama. Sebelum ketukan untuk yang ketiga kalinya, aku segera berjalan ke arah asal suara dan aku bertambah heran ketika yang kulihat di depan pintu adalah seorang penjaga asrama. Laki-laki itu berdiri dengan wajah yang sama sekali tidak ramah, dengan sosok tinggi besar.
"Benarkah ini kamar milik Claire Miller?"
Tanyanya kemudian, dan kubalas dengan anggukan.
"Boleh ku bertemu dengannya?"
"Ya, dengan saya sendiri, Sir."
"Ada tamu yang ingin bertemu dengan anda di lobby asrama."
Setelah menyelesaikan kalimat itu, dengan tidak basa-basi penjaga asrama pergi dengan langkah kaki yang cepat. Aneh, pikirku. Sangat tidak biasa. Aku segera melepas celemek yang kupakai dan menata rambut serta berganti pakaian.
Langkah kaki ku semakin cepat seiring dengan semakin bertambahnya rasa penasaranku. Dan benar. Aku hampir tak percaya dengan apa yang kulihat.
"Peter?"
Laki-laki itu menoleh ke arahku. Aku mengerjap untuk sepersekian detik. Peter sedang berdiri didepanku. Ia berpakaian santai dengan kaos berwarna biru dongker kesukaannya.
"Kenapa? Kau tampak terkejut, Claire."
Ia terseyum santai sementara ada banyak hal yang berputar-putar dalam benakku.
"Ku kira kau sudah berangkat ke Tokyo hari ini.. Dan.. Lalu.. Bagaimana bisa kau datang kemari?"
"Ayo kita pergi."
"Ini tidak lucu, Pete."
"Hahaha, tolong dengarkan aku Claire. Waktuku tidak banyak. Aku akan berangkat ke bandara dan meninggalkan Inggris pukul 5 sore nanti. Dan aku masih memiliki waktu denganmu. Hanya denganmu."
Katanya dengan lembut. Aku masih terpaku dan menatapnya dengan heran.
"Ayolah Claire, cepatlah masuk ke mobil."
"Tunggu Pete, bahkan aku belum sempat mempersiapkan diri.."
Tapi ia tidak menghiraukanku dan langsung menarik tanganku.
"Pete.. Yang benar saja.."
"Sudahlah, mari kita bersenang-senang."
Ia tersenyum penuh arti. Apa yang terjadi selanjutnya? Aku sendiri tidak tahu. Satu hal yang aku tahu, berada didekatnya sudah membuatku tenang.
POSTED BY Unknown ON Friday, 25 April 2014 @ 11:37