CHAPTER 3
James
Pukul 12 siang dan Peter belum juga kembali dari Ms.Anne. Aku menatap bangku kosong di depanku dan tas yang masih tergeletak di meja. Apa yang sedang dilakukan Peter saat ini? Hujan sudah reda, matahari sudah mulai memunculkan sinarnya. Aku memandang ke arah jendela yang kini hanya tampak lapangan kosong dengan rumput hijau sedikit becek. Kira-kira sudah hampir 3 jam sejak insiden Claire pingsan, pikirku sembari memainkan pensil di tangan. Jika Peter mengetahui hal ini, pasti anak itu akan langsung menginterogasiku dengan pertanyaan-pertanyaan yang biasa ia lakukan saat setelah aku berhasil mengganggu Claire.
Aku membolak-balikan beberapa lembar kertas modul yang berserakan di mejaku. Mungkin agar guru yang sedang sibuk menerangkan rumus-rumus rumit di depan itu menganggapku peduli dengan pelajaran yang tengah ia jelaskan.Sesungguhnya aku benar-benar tak peduli tentang apa yang ia jelaskan dan bahkan jika Grey tidak melontarkan pertanyaan -entah bagaimana ia bisa membuat pertanyaan- aku hampir lupa pelajaran apa yang sedang ia terangkan.
Entah kenapa seharian ini aku tidak bisa berkonsentrasi pada pelajaran. Dimulai dari pagi tadi, aku dengan sengaja melemparkan bola basket tepat ke kepala Claire dan ia terlihat marah. Biar kuperjelas, dia memang selalu marah padaku. Memang tak bisa dipungkiri lagi.
Ah, bel tanda pelajaran usai pun berbunyi. Aku terpaku melihat bangku didepanku yang masih kosong. Peter belum kembali.
"James, lekaslah kembali ke asrama. Kau tentu tak akan melewatkan pesta kamar milik Austin bukan?"
Suara Grey menyadarkan lamunanku.
"Tentu saja, aku akan menyusulmu. Tapi aku harus menunggu Peter yang belum juga kembali. Kau lihat kan? Bangkunya masih kosong sejak pagi tadi."
"Apakah kau tidak berpikir jika Peter saat ini sudah berada di asrama? Ku pikir setelah Ms.Anne memanggilnya ia diijinkan untuk pulang ke asrama, siapa tahu Peter tengah tertidur pulas disana?"
Grey mulai membuatku mempercayai kata-katanya. Tapi itu tidak masuk akal.
"Sudahlah Grey, kau lekas kembali ke asrama. Aku dan Peter akan menyusul kalian."
Segera setelah aku mengucapkan kalimat itu, gerombolan murid laki-laki di kelas meninggalkanku. Kini tinggal aku seorang diri di tempat ini dan tak ada yang bisa kulakukan sekarang. Aku merogoh saku celana, mengeluarkan sebuah handphone, menyentuh layar, dan memutuskan untuk menghubungi Peter. Beberapa saat hanya terdengar nada tunggu namun tidak ada sahutan diseberang sana. Hingga tanpa sadar aku telah menghubunginya untuk ke 3 kalinya dan hasilnya tetap nihil. Aku mulai heran dengan apa yang dilakukan Peter. Ah, ruangan Ms.Anne. Tanpa menunggu komando kaki ku segera melesat pergi keluar dari ruangan itu.
Lorong sekolah memang sudah tampak sepi. Ruangan Ms.Anne terletak diujung lantai 3 gedung sekolah. Aku mempercepat langkah, menaiki beberapa anak tangga hanya dengan sekali langkah, bahkan kini aku setengah berlari. Nafasku terengah-engah hingga akhirnya aku tiba di sebuah pintu kayu berwarna gelap. Di pintu tersebut terdapat papan nama bertuliskan 'Anne Wilson'. Aku hendak memutar daun pintu itu ketika tiba-tiba keluarlah sosok yang sudah ku cari-cari.
"James?"
Peter tampak terkejut melihatku.
Claire
Aku sudah berdiri di gerbang sekolah ini, bahkan lebih dari setengah jam lamanya. Tak terhitung berapa kali aku memeriksa jam tanganku yang mungkin saja memberiku kesalahan waktu. Tak terhitung sudah berapa pasang mata melihatku dengan tatapan heran. Yah, mungkin karena pakaian yang kukenakan atau mungkin karena aku telah berdiri selama itu. Aku memandang kelas Peter dari kejauhan. Kelas yang hanya dihuni oleh murid laki-laki itu nampaknya sudah sepi dan tak berpenghuni.
"Claire!"
Aku menoleh. Ah, Rose.
"Ada apa? Tak perlu berlari-lari seperti itu."
Rose menghampiriku dan menyodorkan sebuah bungkusan plastik. Seragamku.
"Oh.. Ya Tuhan, kau tak perlu mengambilkannya untukku. Aku bisa mengambilnya sendiri, Rose sayang.."
"Senang bisa membantumu.. Tapi ngomong-ngomong kenapa kau masih disini? Aku pikir kau sudah kembali ke asrama dengan Mary."
Aku sadar aku bahkan belum memberitahukan soal janjiku dengan Peter pada Rose dan Mary.
"Em.. Sebenarnya aku hanya menunggu Peter. Pagi tadi, ia berjanji padaku bahwa ia akan menemuiku sepulang sekolah. Tapi.. Hingga saat ini pun aku bahkan belum melihatnya."
Jelasku pada Rose.
"Oh.. Okay.. Apakah kau butuh teman, Claire?"
"Em tidak. Kau kembalilah ke kamar. Sepertinya kau terlihat lelah. Aku segera menyusulmu."
"Ya, kau memang benar. Jangan memaksakan dirimu, Claire. Hari sudah semakin sore. Ingat kejadian pagi tadi. Kau harus menjaga kesehatanmu, jangan sampai kejadian pagi tadi terulang kembali."
"Kau meledekku Rose. Hal itu tidak mungkin terjadi lagi. Jangan cemaskan aku."
Kami saling bergurau dan tertawa kecil.
"Aku pergi dulu, Claire. Jangan sampai kau menunggu 10 menit lebih lama. Ingat itu."
Rose berpamitan dan mengulaskan senyum kemudian ia melangkah pergi. Bayangan Rose semakin menghilang. Sebenarnya aku butuh teman. Untuk saat ini. Aku menghela nafas entah untuk kesekian kalinya. Aku tidak ingin melihat jam, aku hanya ingin memastikan bahwa Peter benar-benar datang. Ya, aku masih terpaku ditempat, seorang diri. Sekolah semakin sepi. Matahari yang awalnya bersinar cerah kini berganti senja. Semakin gelisah. Tidak biasanya Peter datang terlambat dan membiarkanku untuk menunggunya dalam waktu yang cukup lama. Dia selalu tepat waktu bahkan ia lebih sering datang lebih awal dari yang dijanjikan. Aku sempat berpikir untuk masuk ke kompleks sekolah untuk mencarinya, ketika tiba-tiba terdengar suara yang memanggilku dari arah belakang.
"Claire!"
Wajah laki-laki itu, suaranya, saat itu juga semuanya terekam dalam memoriku. Begitu sederhana. Senyumku tak terelakkan lagi. Seluruh kekesan runtuh seketika. POSTED BY Unknown ON Tuesday, 16 April 2013 @ 08:26