homePROFILETAGBOARDAFFILIATEStwitterfollow
What the Hell's Going On?
CHAPTER 4

Claire

If I let you go I will never know what my life would be holding you close to me..

 
Kurebahkan tubuhku ke atas ranjang begitu aku sampai di dorm. Mataku menerawang ke langit-langit ruangan itu. Kata-kata Peter yang tadi kudengar memang sedikit janggal bagiku. Berbagai pikiran terus menerus terlintas dalam benakku. Sesegera mungkin kutepis pikiran negatif yang mau tak mau tetap menghantui. Aku tidak ingin mencurigai Peter. Aku sama sekali tidak akan melakukannya. Begitulah akhirnya kesimpulan dari pikiranku hingga membuatku memutuskan untuk meraih handuk dan bergegas mandi. Kuharap segala kejadian buruk dan aneh yang terjadi hari ini akan menghilang bersama dengan air yang mengalir.
Aku telah selesai mandi dan tengah menghadapkan diriku di depan cermin. Nampak ada wajah pucat disana. Ya, aku memang sedikit sakit. 
"Claire, aku menemukan handphone mu di seragam. Tapi kurasa ada sedikit masalah."
Kata Mary mengagetkanku. Ku lihat Mary sedang membongkar benda putih itu.
"Menurutmu, apa bisa diperbaiki?"
Tanyaku. Berharap Mary memberikan jawaban positif.
"Entahlah semua bagiannya basah."
Jawabnya sedikit acuh. Matanya masih sibuk meneliti dan ia terlihat tengah berkonsentrasi. Gadis itu memang terlampau sering mengotak-atik barang rusak, misalnya saja jam kamar rusak -peninggalan kakak kelas kami- yang berhasil ia perbaiki meski masih ada beberapa bagian yang masih pecah.

"Sebaiknya kau beritahu Peter tentang hal ini. Agar dia tidak mencemaskanmu."
Sahut Rose dari balik dapur yang kemudian bergabung dengan kami sembari membawa tiga gelas susu hangat.
"Ya, kau benar Rose."
Jawabku membenarkan ucapan Rose. Kemudian Rose menyodorkan sebuah handphone berwarna pink lembut.
"Nih. Pakailah handphone ku."
Setelahnya, jemariku mulai menari diatas layar handphone itu.
Sekitar 15 menit setelah pesan singkat itu ku kirim, tak ada tanda-tanda balasan dari Peter. Padahal yang kutahu, biasanya Peter akan langsung membalas pesan singkatku sekurang-kurangnya 5 menit setelah pesan itu terkirim bahkan disaat ia tengah belajar. Pukul 21.20. Tidak mungkin laki-laki itu tidur seawal ini.
"Kenapa, Claire?" 
Tanya Mary yang sempat menangkap kegelisahanku.
"Peter. Dia tak kunjung membalas pesanku."
Jawabku terdengar putus asa.
"Ah, aku ingat. Kudengar Austin sedang mengadakan pesta kamar. Mungkin dia sedang disana."
Kalimat yang diucapkan Rose itu sedikit membuatku lega.
"Bagaimana dengan handphone ku, Mary?"
Tanyaku kemudian, sengaja untuk mengganti topik perbincangan.
"Aku sedang mengusahakannya, mungkin besok. Kita keringkan dulu perangkatnya."
Kini ia sudah tidak sibuk mengotak-atik benda malang itu. Begitulah akhir dari hari yang melelahkan ini.
Hingga keesokan harinya di sekolah, begitu bel istirahat pertama berbunyi aku sengaja tidak ikut ke kantin bersama Rose dan Mary. Berharap Peter datang menemuiku di ruang kelas seperti biasanya. Aku sedikit cemas padanya hari ini. Pagi tadi, aku tak menemukannya di kelas, malahan yang kulihat adalah batang hidung James yang sangat kubenci. Aku hendak merogoh saku untuk mencari handphone namun beberapa detik aku segera tersadar. Aku tak memilikinya saat ini.
"Apa Peter belum menemuimu?"
Rose sudah kembali dari kantin dan berhasil membaca mimik muka ku. Ditangannya sudah menggenggam sebotol air limun dingin. Aku mengangkat bahu dan kedua gadis didepanku itu paham apa yang kumaksud.


"Mungkin dia sedang mempunyai urusan penting, Claire."

Hibur Mary yang kemudian disusul dengan suara bel berbunyi tanda bahwa Peter tidak menemuiku pada jam istirahat pertama ini.
Waktu berjalan begitu cepat sesuai dengan harapanku. Bel tanda istirahat kedua berbunyi dan aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku segera beranjak, pergi menemui Peter di ruang kelasnya. Ah, itu dia. Tampak sosok laki-laki berdarah British-Japanese itu tengah duduk sembari sibuk dengan buku-buku di mejanya.

"Hey Pete, apa kau tidak menerima pesan singkatku? Kenapa kau tidak membalasnya? Dan kemana saja kau di jam istirahat pertama? Aku sempat berharap kau datang menemuiku."

Aku menghujaninya dengan berbagai pertanyaan.

"Tenanglah, Claire. Atur nafasmu."

Jawab Peter dengan tenang.

"Aku.. Aku hanya mencemaskanmu. Mengingat kata-kata aneh yang kau ucapkan kemarin."

Kataku tertunduk.

"Maaf telah membuatmu cemas, Claire. Tadi malam Austin mengadakan pesta kamar dan kami bersenang-senang hingga aku tak sempat memegang handphone ataupun sekedar mengecek inbox. Kemudian pada jam istirahat pertama Ms.Anne memanggilku untuk datang ke ruangannya."

Terang Peter sembari menepuk-nepuk pundakku.

"I miss you, Pete."
"Begitupun aku, Claire.. Tapi aku minta maaf, mungkin beberapa hari kedepan kita tak bisa pulang bersama. Ada sesuatu hal  yang harus kuurus."

Katanya, yang semakin menambah kekecewaanku.

"Aku berjanji akan mengajakmu pergi begitu urusanku selesai."

Hiburnya, tersenyum hingga membuatku membalas senyumnya.

"Kembalilah Ms.Miller, sebelum tiang bendera menemanimu untuk yang kedua kali."

Suara James membuyarkan senyumku. Entah darimana datangnya laki-laki itu.

"Kembalilah."

Kata Peter masih dengan senyum dan kalimat lembut yang keluar dari bibirnya. Aku menganggukkan kepala, seraya beranjak pergi dari ruangan itu tanpa mempedulikan sosok James dibelakangnya.

Pukul 16.30
Aku sudah ada di dormku lebih awal dari biasanya karena aku tak menemui Peter. Sore ini, aku hanya menghabiskan waktuku dengan bermalas-malasan sembari mendengarkan  musik. Rose pergi ke swalayan yang terletak tidak jauh dari komples asrama untuk membeli persediaan makanan sementara Mary sedang mengikuti ekstrakurikuler di sekolah. Namun mereka tak kunjung pulang. Aku mulai bosan dengan situasi seperti ini.

"Aku pulang."

Seru Rose yang langsung menjatuhkan beberapa kantung belanjaan.

"Aku juga."

Susul Mary tak lama setelah Rose masuk. Aku menoleh dan tampak gembira melihat mereka pulang.

"Claire, aku sudah membawa handphone mu ke reparasi sore ini. Tukang reparasi itu berkata.. Emm.. Ini tidak dapat diperbaiki lagi."

Kata Mary seraya meletakkan benda malang yang tak tertolong itu diatas meja. Aku hanya bisa menatapnya pasrah.

"Rose, bolehkah ku pinjam handphone mu untuk menghubungi Peter?"
Kataku meminta ijin pada Rose dan kemudian ia segera menyerahkan handphone nya. Namun, sekali lagi.. Ia tak membalas pesanku. Aku berpikir sejenak.
"Rose, bolehkah kupakai untuk menelfonnya?"
Dia segera mengangguk setuju. Ah Rose. Dia memang sangat baik dan pengertian. Segera kucari nama Peter dalam kontak dan ku tekan 'call'.
Aku menunduk lesu di ranjang. Bahkan ia tak bisa dihubungi. Selalu saja tersambung nada mailbox. Aku menghela nafas panjang. Apakah yang kulakukan ini salah? Siapa yang salah? Aku yang mungkin terlalu mengejarnya atau dia yang tak mempedulikanku? Mungkin saat ini Peter memang tidak dapat diganggu. Sekedar berkirim pesan singkat pun ia tak sempat. Sekedar menjawab telfon pun ia tak sempat. Aku tersenyum pahit. Sudahlah, Claire. Jangan bertingkah kekanakan. Kau seharusnya mengerti keadaan Peter bahkan ketika ia tak bisa menjelaskannya padamu, gumamku dalam hati.
Asrama laki-laki dan asrama perempuan memang terletak tidak terlalu jauh. Hanya terbatasi oleh kebun anggur, bahkan jika malam hari, lampu-lampu yang menyala dari gedung asrama laki-laki tampak jelas terlihat dari balkon. Aku mencoba menghibur diriku sendiri bahwa ini akan segera berakhir. Setidaknya kami masih berada di satu sekolah, setidaknya aku masih bisa melihatnya, dan setidaknya kami masih bisa bertemu.
"Jangan terlalu sering merenung!"
Rose dan Mary datang melemparkan bantal ke arahku.
"Ugh, hey! Aku tidak merenung!"
Aku dengan susah payah menyingkirkan bantal-bantal itu.
"Off course. You did."
Kini Mary merebahkan tubuhnya, sementara Rose duduk disebelahku sembari menyisir rambut pirangnya yang terurai.
"Aku lupa memberitahukan sesuatu hal padamu, Claire."
Rose berkata seakan hal yang serius tengah terjadi.
"Apa itu?"
"Pagi tadi di sekolah, aku mendengar berita bahwa Ms.Frey, nenek tua itu tidak diijinkan mengajar selama 2 hari. Dan itu semua berkat kejadian yang menimpamu kemarin. Aku memang cemas sewaktu kau jatuh pingsan namun kini aku berterima kasih padamu. Kerja yang bagus, Claire."
Sontak ku lemparkan bantal ke arah Rose yang mengucapkan sederet kalimat itu dengan wajah tak bersalah sementara meledaklah tawa Mary.
"Bicara apa kau, Rose. Hahaha.. Tapi kau benar juga. Perjuanganku berdiri ditengah hujan selama 1 setengah jam membuahkan hasil."
"Rose, Claire, berita itu cepat menyebar hingga seluruh sekolah. Biar kutebak Claire, kau akan menjadi bahan gosip minggu ini."
Mary menambahkan sembari mengubah posisi duduknya.
"Ya, Mary benar."
Rose menganggukan kepalanya.
"Lalu? Apa yang perlu ku cemaskan? Bahkan selama aku bersekolah disini pun aku tidak merasa dikenal oleh orang banyak."
"Memang tidak ada yang perlu kau cemaskan Claire. Hanya saja, terkadang gosip pertama akan jauh berbeda setelah menjadi gosip yang ke-10. Kau mengerti apa yang ku maksud bukan?"
Mary menatapku lurus.
"Yah.. Kau benar. Aku tidak akan mempedulikannya."
Jawabku santai.
"Tidak ada masalah yang tidak bisa kau selesaikan, jika kita bersama."
Ruangan itu dipenuhi dengan gelak tawa sementara hari semakin larut. Aku tidak tahu, namun aku merasa beruntung memiliki sahabat seperti mereka.
Lampu-lampu kamar sudah banyak yang menyala. Tak terasa sudah satu jam bergurau dengan kedua gadis kamar-ku, kini tugasku untuk mengecek pakaian, beberapa stel seragam yang baru saja datang dari laundry. Rose dan Mary mungkin lelah hingga mereka telah terlelap di kasur. Jam menunjukkan pukul 19.15, dan merupakan hal yang langka melihat mereka sudah terlelap.
Malam ini tampak sunyi, tidak terdengar suara ribut Jane -gadis yang tinggal di kamar sebelah- yang selalu kehilangan kucing kesayangannya. Jane sangat nekat. Asrama kami tidak memperbolehkan kami membawa hewan peliharaan. Namun hebatnya Jane telah berhasil bertahan di asrama ini bersama kucing besarnya selama hampir 2 tahun lamanya.
Aku berjalan menuju balkon. Cuaca malam ini cukup panas, mungkin besok pagi hujan akan turun, pikirku. Mataku menyapu menatap hamparan kebun anggur yang luas, serta di depan sana, gedung asrama murid laki-laki berada. Peter ada disana. Dia pasti ada disalah satu lampu yang menyala itu. Entah apa yang sedang ia lakukan aku benar-benar tidak tahu. Entah apa yang sedang ia pikirkan.
Setelah agak lama aku berdiri di balkon, aku memutuskan untuk masuk ke dalam dorm dan memutuskan untuk menyusul tidur lelap Rose dan Mary. Aku memutuskan untuk mengakhiri hari yang panjang ini. Aku menghela nafas panjang sebelum aku benar-benar memejamkan mataku. Ah, selamat malam Pete.



POSTED BY Unknown ON Wednesday, 17 April 2013 @ 10:22
Click for the Older Chapter | all rights reserved desiree 2012 | Click for the Newer Chapter