homePROFILETAGBOARDAFFILIATEStwitterfollow
CHAPTER 5

Claire

Aku terbangun oleh suara hairdryer milik Rose yang selalu ia pakai setiap pagi.
"Selamat pagi, Claire. Lekas bangun lalu bergegaslah mandi. Kau tahu? Mary sudah mendahului kita. Dia menunggu kita di aula."
Aku menguap sementara kaki ku menendang selimut. Aula adalah tempat yang biasa dipakai untuk berkumpul dan sarapan.. Aroma parfum milik Rose sungguh menusuk hidung. Tanpa berkata-kata, aku bergegas bangkit, menyeret handuk, dan masuk ke kamar mandi. Jujur saja tubuhku masih dihinggapi rasa kantuk. Hari ini akan menjadi hari yang membosankan. Aku ingin cepat-cepat melaluinya.
Saat aku dan Rose tiba di aula, tempat itu sudah penuh dan ramai oleh murid-murid perempuan. Aku melihat Mary tengah duduk di sebuah bangku dan ada nampak 2 bangku kosong di depan meja itu. Mary menyadari kedatangan kami, sehingga ia cepat-cepat melambaikan tangannya tinggi-tinggi dan terseyum lebar.
"Ya, aku sudah melihatmu."
Gumamku sembari membalas lambaian tangannya. Tepat pada saat itu, seseorang di belakangku menyenggolku hingga aku terdorong dan sup panas yang tengah kubawa tumpah mengenai tanganku.
"Aw! Watch out!"
Spontan aku menjerit hingga beberapa murid perempuan di sekitarku menoleh. Sungguh, aku ingin mengumpat saat ini juga.
"Uh.. Oh, maafkan aku.. Aku tak sengaja.."
Seorang gadis berambut coklat bergelombang cepat-cepat merogoh isi tasnya dengan gugup dan mengeluarkan beberapa lembar tissue, membersihkan kuah sup panas yang mengenai tanganku.
"Ouch.. Sudah, tidak apa-apa.. Aku akan membersihkannya di luar."
Aku melangkah pergi menuju toilet.
"Claire aku akan membawakan makananmu ke meja!"
Rose setengah berteriak sementara aku menjawabnya dengan tangan yang menandakan 'ok'.
Pagi ini. Pertanda hari buruk untukku.
Aku memutar keran wastafel dan kulihat tanganku sedikit melepuh berwarna kemerahan. Aku mengerang kesakitan saat air dingin itu membasahi tanganku. Namun beruntungnya, sup itu tidak mengenai seragam ataupun tasku.
"Apakah lukamu baik-baik saja? Aku datang membawa lotion pereda perih dan luka melepuh. Maaf.. Aku.. Benar-benar menyesal.."
Ternyata gadis yang menumpahkan sup itu menyusulku kemari.
"Oh.. Okay, terima kasih.. Ini bukan salahmu, ini hanya kecelakaan kecil."
Ucapku mencoba tersenyum. Sementara aku mengoleskan lotion itu, gadis itu terus menatapku.
"Ini.. Aku sudah tidak apa-apa. Kembalilah dan selesaikan sarapanmu."
Aku menyodorkan lotion itu kepadanya.
"Engg.. Namaku Molly."
Tangannya terulur.
"Aku Claire. Claire Miller."
Aku membalas jabat tangannya dan kami saling tersenyum satu dengan yang lain.
"Senang bertemu denganmu, Claire."
"Aku juga."

Setelah kuperhatikan gadis bernama Molly ini memiliki penampilan yang menarik. Rambutnya coklat bergelombangnya terjuntai kebawah, tubuhnya ideal. Penampilannya memang terlihat angkuh namun setelah ku teliti ternyata ia memiliki warna mata biru, mengingatkan padaku pada Peter yang juga sama memiliki mata indah itu. Good looking. Kami juga sempat berbincang sebentar dan dari situ aku tahu bahwa Molly adalah murid perempuan yang lokasi kamarnya hanya selang 3 dorm dari dormku. Bahkan ia juga setingkat dengan kelasku.
Aku kembali ke meja makan bersama kedua sahabatku yang kini menghujaniku dengan berbagai macam pertanyaan.
"Claire, kau baik-baik saja?"
"Apa kita perlu ke klinik meminta obat pada Malvin?"
"Jadi kau sudah berkenalan dengan gadis itu?"
"Bagaimana?"
Mereka benar-benar gadis yang cerewet. Aku cukup sabar menjawab satu persatu pertanyaan mereka bahkan sepertinya mereka mengganggu sarapanku.Yeah, in this morning.

Peter

Beberapa hari terakhir ini, aku merasa seperti tidak fokus pada kegiatan di sekolah, terutama pada pelajaran. Aku tidak pernah benar-benar mengikuti pelajaran sampai selesai. Hanya ruangan Ms.Anne, kepala sekolah dan ruangan kepala asrama lah yang selalu menjadi tempat persinggahan. Bahkan hari ini, sepulang dari sekolah aku harus menuju ke ruangan Ms.Anne dan tidak bisa pulang dengan Claire seperti yang biasa kulakukan.
"Peter.. Apa kau sungguh-sungguh ingin pindah dari sekolah ini?"
Kata Ms.Anne tak banyak basa basi, begitu aku duduk berhadapan dengannya.
"Tidak, Miss. Aku sama sekali tidak ingin pindah dari sini tapi orang tua ku lah yang menginginkan hal itu."
Terangku pada Ms.Anne. Aku tidak ingat sudah berapa kali kukatakan hal itu padanya namun sepertinya alasan jujur itu tidak bisa membuat Ms.Anne puas.
"Cobalah merayu pada mereka sekali lagi, Pete. Kau sendiri tahu, sekolah ini adalah sekolah yang terbaik yang tidak pernah kau jumpai dimanapun juga."
Kata Ms.Anne dengan lembut. Kalimat itu semata-mata agar aku tetap disini dan mengubah keputusan bulat. Aku menghela nafas panjang sementara Ms.Anne memandangku dengan tatapan prihatin. Mungkin ia mengerti keadaanku dan bisa membaca apa yang benar-benar ku rasakan saat ini.
"Baiklah.. Ini belum terlambat. Aku akan mencoba sekali lagi."
Setelah terdiam agak lama, aku mengangkat suaraku. Kalimat yang kuucapkan terdengar cukup jelas.
"Surat pernyataan dari kepala sekolah dan kepala asrama sedang dalam proses. Kau harus memberikan konfirmasi dalam waktu dekat. Dan kau masih memiliki waktu untuk membatalkannya."
Kata-kata Ms.Anne sedikit menghiburku. Aku hanya membalasnya dengan seulas senyum. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan lagi.
"Aku hanya ingin kau tetap disini. Teman-temanmu pasti juga mengharapkan hal yang sama. Kau sangat berharga disini, Pete."
Tambahnya lembut. Begitulah yang selalu ia ucapkan setiap kali aku datang ke ruangannya untuk mengurus masalah ini.
Jelas sekali bahwa Ms.Anne benar-benar tidak menginginkan aku pergi. Sama seperti aku. Tapi diusiaku yang mulai menginjak 18 tahun ini, aku bahkan tak mampu berkuasa atas keputusan orang tuaku termasuk dalam urusan pendidikanku.
Tapi ucapan Ms.Anne ada benarnya juga. Pindah dari sini bukan hanya meninggalkan teman-temanku. Aku juga harus meninggalkan Claire. Apalagi mengingat perjuanganku untuk masuk di sekolah ini. Dengan biaya pendidikan yang tidak murah, beberapa kali ujian masuk, dan karantina. Dan yang terpenting, sekali aku keluar dari sekolah ini, aku tak akan bisa kembali.
Ah, tiba-tiba saja aku teringat dengan Claire. Aku tak bisa membayangkan betapa bosannya hidupku jika aku tak bisa bersamanya lagi. Aku pasti akan sangat merindukannya.
Aku sudah berada di dorm sejak 2 jam yang lalu. Aku meneguk sekaleng soda dari lemari pendingin, ketika handphone ku berdering dari atas meja.
-Dad- Calling.
"Hallo, Dad."
Sapaku begitu kami tersambung. Jujur saja, aku merasakan pertanda buruk.
"Bagaimana dengan proses kepindahanmu, Pete? Kau sudah mengurusnya bukan?"
Tanya Dad to the point. Nah, pertanda itu baru saja dimulai.
"Dad.. Sebenarnya.. Aku ingin tetap tinggal disini."
Suaraku terdengar jelas dan aku memberikan penekanan di bagian kata terakhir. Aku tidak menjawab pertanyaannya. Beberapa saat kami saling terdiam, mungkin nampaknya Dad hampir kehilangan akal untuk menjawab kalimat yang selalu kuucapkan itu.
"Apa yang membuatmu tak mau menuruti keinginan orang tuamu, Pete? Aku sudah mencarikanmu sekolah yang terbaik di Jepang."
Jawabnya tegas namun terdengar sedikit nada kecewa disana.
"Sekolah ini juga sudah cukup baik bagiku, Dad. Aku sudah mendapatkan semuanya disini."
Kataku berusaha untuk meyakinkannya.
"Kau pindah bukan semata-mata karena sekolahmu, Pete. Aku tahu Shine Star high school memang bagus. Tapi kau tetap perlu kemari. Banyak perusahaan yang harus kau pikirkan disini segera setelah kau menyelesaikan pendidikanmu. Kau butuh beradaptasi mulai dari sekarang."
Dad membeberkan sederet alasan yang aku sudah mengetahuinya. Dia pikir aku tidak berpikir sampai kesana.
"Kenapa tidak kau saja yang mengurusnya paling tidak sampai aku menyelesaikan pendidikanku disini."
Bantahku. Inilah yang jarang kulakukan. Hampir tidak pernah aku membantah perintah kedua orang tuaku. Namun untuk masalah ini, aku benar-benar mengerahkan yang terbaik.
"Dengar Pete, aku tidak suka kau menganggap sepele urusan ini."
Terdengar nada yang diucapkan Dad meninggi.
"Aku sama sekali TIDAK menyepelekannya. Bahkan aku sudah memikirkannya baik-baik. Aku hanya.."
"Jangan dengarkan kata-kata Ms.Anne ataupun teman-temanmu. Mereka hanya akan menghambat kesuksesanmu."
"Mungkin aku dapat meraih kesuksesanku dalam hal lain jika aku tinggal disini, Dad!"
"Mungkin. Tapi itu sama sekali bukan jaminan. Hidup ini keras dan kau bahkan belum pernah merasakan hidup yang keras. Kau tidak boleh meyia-nyiakan peluang yang ada. Shine Star High School dan prestasimu disana belum menjamin masa depanmu."
"Tapi.."
"Kau sudah lupa bahwa aku dan mom-mu hanya bisa mengandalkanmu. Kau anak kami satu-satunya."
"Dad, please.. Mereka terlalu berharga bagiku.."
Suaraku kini terdengar putus asa. Berbagai kalimat yang telah diucapkan Dad semakin memojokkanku.
"Kau hanya memandang hanya dari satu sisi saja, Nak. Awalnya memang berat untuk meninggalkan teman-temanmu disana. Tapi cobala cari sisi lain. Kau juga akan menemukan teman-teman baru disini, tanpa kau memutuskan hubungan pertemananmu disana. Percayalah."
"Dad, kumohon.."
"Akan kuurus prosedur kepindahanmu jika kau keberatan untuk mengurusnya sendiri. Aku tahu saat ini di Inggris sudah larut. Beristirahatlah."
Itulah kalimat terakhir yang diucapkan Dad sebelum ia mengakhiri percakapan kami.
Argh! Aku membanting handphone ku ke lantai. Rasanya aku begitu frustasi dengan semua ini. Keributan kutimbulkan bahkan membuat Steve -teman sekamarku- yang tengah tertidur terbangun untuk beberapa detik kemudian kembali terlelap. James. Bahkan aku tak melihatnya seharian ini.
POSTED BY Unknown ON Wednesday, 17 April 2013 @ 17:34
Click for the Older Chapter | all rights reserved desiree 2012 | Click for the Newer Chapter