CHAPTER 6
I'm just having conversation with the thought in my head, all I hear are angels crying.. Oh, won't they just sing instead..
Malam dilangit Kota Seabrook tampak sunyi. James bahkan tidak menampakkan batang hidungnya. Tanpa berpikir panjang aku melangkah cepat meninggalkan meninggalkan dorm dan menutup pintu yang terbuat dari kayu itu dengan keras. Sekelompok murid laki-laki yang tengah mengobrol di lorong asrama tampak heran. Cih, mungkin keadaanku saat ini sangat kacau. Bertambah kacau setiap harinya. Langkahku bertambah cepat, kedua tanganku mengepal, entah dimana tempat yang sedang ku tuju.Yang kutahu, segera setelah aku mendapat surat izin dari kepala asrama, aku pergi ke sebuah swalayan yang memang tak jauh dari kompleks asrama. Tanpa berpikir lebih panjang, aku menyeret beberapa botol wine dari lemari pendingin. Bahkan aku tak sadar berapa botol yang sudah kubeli.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam dan aku tidak akan terlelap malam ini. Kota kecil di pinggir pantai ini nampak sepi. Aku membuka satu buah botol wine dan meneguknya sementara kakiku masih melangkah menyusuri trotoar. Beban dan pikiran yang kutanggung terasa semakin berat. Mungkin tidak ada yang mengerti tentang keadaanku saat ini. Ah.. Claire. Tidak.. Tenang saja, aku tidak akan membiarkanmu memikirkan masalahku yang rumit ini. Aku tersenyum pahit mengingat bahwa aku akan meninggalkannya, cepat atau lambat. Langkahku terhenti di depan sebuah etalase toko yang memang sudah tutup. Aku terduduk, pikiranku melayang entah kemana. Suasana disini sangat sunyi, benar-benar mewakili keadaanku saat ini. Hanya ada beberapa mobil yang sesekali melewati jalan sunyi ini.
"Hey, dude. Kau butuh teman minum?"
Aku menoleh kearah suara wanita yang tiba-tiba terdengar. Tampak seorang gadis berambut cokelat tergerai yang kini langsung duduk di sebelahku sebelum aku menjawab pertanyaannya. Gadis itu rupanya juga tengah membawa 2 buah botol wine, ia meneguknya kemudian menatapku.
"Sebenarnya aku sedang tak butuh teman saat ini."
Pandanganku lurus kedepan. Ini bukan yang pertama seorang gadis tiba-tiba mendatangiku seperti ini. Aku hanya ingin sendiri.
"Kau murid yang kabur dari asrama bukan? Mana mungkin kau tidak membutuhkan teman dan mana mungkin seorang murid laki-laki minum seorang diri, kecuali jika kau sedang mempunyai masalah berat."
Aku menoleh ke arah gadis itu. Dari mana ia tahu? Aku tertegun sejenak, kemudian kembali meneguk wine ditanganku.
"Seorang murid laki-laki yang berumur 18 tahun. Kau tidak berpikir bahwa sewaktu-waktu aku akan berbuat jahat pada seorang gadis yang dengan sengaja mendatangiku seorang diri? Apalagi kau telah melihat apa yang kuminum dan kau juga sudah menerka bahwa aku sedang memiliki masalah. Itu akan menambah kesempatanku untuk berbuat yang melanggar asusila."
Jawabku dingin.
"Tidak. Karena dari penampilanmu pun sama sekali tak terlihat kau seorang yang jahat."
Aku mengulas senyum. Dia gadis yang pintar.
"Yah tebakanmu benar."
"Girl's feeling. Kalau benar kau sedang mempunyai masalah, kita senasib."
"Semua orang pasti mempunyai masalahnya sendiri-sendiri."
Mendengar perkataanku tersebut, gadis itu tersenyum kepadaku.
"Lalu bagaimana kau bisa tahu bahwa aku seorang murid laki-laki yang kabur dari asrama?"
"Karena ternyata kita satu sekolah."
Dia menjawab dengan senyum simpul.
"Oh.. Okay.."
"Em.. Maaf, boleh kutahu namamu?"
Gadis itu bertanya padaku.
"Peter. Peter Aston."
"Kenalkan. Namaku Molly. Molly Bannet."
"Senang bertemu denganmu, Molly."
"Aku juga, Peter."
Tak lama kami berbincang. Dari situ aku tahu bahwa ia satu tingkat denganku.
"Oh kalau aku boleh tahu, apakah kau asli keturunan Inggris, Pete?"
"Tidak, ibuku memang asli dan seratus persen keturunan Inggris, namun ayahku seorang Japanese. Bahkan kurasa aku sama sekali tidak mirip dengan ayahku."
Ah Dad. Aku teringat kembali masalahku dengannya.
"Kau mewarisi mata ibumu kalau begitu. Tapi ada dua hal yang menandakan bahwa kau bukan keturunan Inggris tulen."
"Hm?"
Aku menoleh ke arahnya.
"Rambutmu dan kulitmu. Rambutmu berwarna gelap dan kulit orang Inggris berwarna putih kemerahan. Tapi kau tidak."
Aku tertegun, ternyata ia melihatku hingga sedetail itu.
Aku meneguk tegukan wine terakhir yang nyaris habis. Malam sudah semakin larut. Kini lampu-lampu etalase toko di sepanjang trotoar mulai padam. Pukul 11.30 malam.
"Kurasa malam ini sudah cukup larut. Kita harus kembali ke asrama."
Kataku dan segera beranjak dari tempat itu.
"Baiklah, sampai bertemu lagi, Pete. Selamat malam."
Aku berpisah dengan gadis itu dan kembali menuju ke asrama. Saatnya untuk mengakhiri hari yang melelahkan ini. Bagaimana esok hari? Aku tidak tahu.Yang jelas, aku hanya ingin masalah ini cepat selesai. POSTED BY Unknown ON Saturday, 20 April 2013 @ 16:03