homePROFILETAGBOARDAFFILIATEStwitterfollow
CHAPTER 7





Peter

Jam menunjukkan pukul 07.00 pagi. Tapi aku masih tak berniat untuk beranjak dari tempat tidur.
"Bangun, Pete. Kau tak boleh bermalas-malasan walau hari Minggu."
Kata James seraya menarik bantalku. Aku mengerang. Masih tak mau beranjak. Ku tarik selimutku hingga menutupi seluruh tubuh.
"Oh ayolah Pete. Aku sedang ingin menantangmu bermain basket!"
Teriak James.
"Come on Pete! Ototku butuh relaksasi."
James sedikit meronta. Cerewet sekali.
"Maaf James, aku sedang tidak ingin bermain basket."
Jawabku suntuk. Kepalaku masih terasa berat.
"Apa kau minum?"
Tanya James sambil menatapku lekat-lekat.
"Harusnya kau tahu James."
"Oh, okay.. Aku tidak tahu kau sedang mempunyai masalah. Aku juga tidak akan mengungkit masalahmu. Baiklah tidurlah sepuasmu. Oh ya aku menemukan handphone tergeletak di lantai semalam dan Claire berkali-kali menghubungimu. Tapi aku tak tahu mengapa ia menggunakan nomor Rose. Ah, dia bilang padaku bahwa ia terus memikirkanmu."
Kata James sebelum meninggalkan dorm.
"Dimana kau taruh handphone ku James?"
Seruku. Aku langsung melompat dari ranjang.
"Diatas kulkas. Apa kau menjatuhkannya? Kulihat ada beberapa bagian yang tergores. Untung saja tidak rusak."
Kata James sembari membenahkan sepatu basketnya. Aku segera meraih handphone malang itu. Kulihat memang ada beberapa bekas goresan. Kulihat pula ada sebuah pesan dari Rose. Kurasa Claire yang mengirimnya. Ah, dia hanya memberitahukan jika handphone nya rusak. Ada beberapa catatan panggilan dari Rose. Sekitar pukul 11 malam. Entah kenapa ada segudang penyesalan dalam benakku.
"James, apa yang dikatakan Claire selain itu?"
Aku bertanya pada James yang kini tengah sibuk mencari tas olah raganya.
"Kurasa dari nada bicaranya, Claire sedikit kecewa padamu. Lekaslah kau temui!"
Seru James yang sedikit berteriak dari dapur. Benar juga kata James. Mungkin ada baiknya jika aku mengajaknya kencan hari ini.
"Baiklah Pete, aku pergi dulu. Steve membuatkan kita waffle pagi ini. Dia sudah pergi ke perpustakaan pagi-pagi sekali. Kurasa dia sedang mencari buku-buku resep seperti biasa. Hobby memasaknya semakin menjadi-jadi bahkan masakan oriental pun ia mahir membuatnya. Sarapanlah dengan waffle itu. Bye!"
James kembali mengoceh sebelum dia pergi dan sedikit membanting pintu dorm. Mataku masih tertuju pada layar besar di handphone ku. Aku mencari kontak -Rose-. Aku memutuskan untuk menghubunginya.
"Halo?"
Terdengar suara jawab diseberang sana.
"Oh, hey Rose. Bisakah kau sambungkan dengan Claire? Aku ingin berbicara dengannya."
Jawabku sambil berjalan menuju balkon.
"Tentu saja. Hey Claire! Peter meneleponmu!"
Aku menjauhkan handphone dari telingaku untuk beberapa senti. Bahkan Rose berteriak di telepon, gumamku.
"Halo, Pete?"
Terdengar suara Claire. Ah rasanya sudah lama sekali aku tak mendengar suaranya.
"Claire? Ya ini aku.. Em.. Aku minta maaf soal tadi malam. Aku sedang pergi dan aku meninggalkan handphone ku di dorm."
"Ya, James sudah memberitahuku tentang hal itu."
Dari nada suaranya aku tahu dia memang sedikit kesal. Ya aku bisa memakluminya.
"Sebenarnya aku ingin bertanya.. Emm apakah kau ada acara hari ini? Kupikir sudah lama kita tidak uhmm.. Bersenang-senang.."
Terdengar gugup.
"Kencan? Kau serius?"
"Aku serius Claire. Apakah kau ada janji lain?"
Tanyaku dengan hati-hati.
"Tentu tidak. Aku sangat ingin bertemu denganmu."
Senyumku mengembang ketika mendengar jawabannya.
"Baiklah gadis cantik,  aku harus mandi dan bersiap-siap. Aku juga tidak sabar bertemu denganmu. Kita akan bertemu di kafe biasa ya. Ok. Ya. Sampai nanti. Bye."
Aku menutup percakapan kami dan tersenyum lebar. Matahari bersinar cerah dan tidak ada setitik awan pun disana. Ini akan menjadi hari yang indah.
Aku bergegas masuk ke dalam dorm dan meraih handuk, bahkan tak sampai 10 menit aku telah selesai mandi. Aku melahap habis waffle lezat buatan Steve dan meneguk segelas jus apel di meja yang bahkan aku sendiri tidak tahu siapa yang membuatnya.
Setelah semuanya selesai, aku berangkat. Aku tak mau Claire menungguku bahkan untuk 1 menit lamanya. Kita akan bersenang-senang untuk hari ini, Claire.

Claire

Aku berjalan menyusuri trotoar dengan dress bermotif floral berwana pastel, dan aku mengenakan sneakers merah muda yang menjadi favoritku. Pagi tadi Peter meleponku dan ia mengajakku untuk pergi kencan. Tentu saja aku sedikit terkejut dengan ajakannya yang mendadak. Rose dan Mary sangat antusias mendengar kabar ini, mengingat Peter sangat sibuk dan acuh dalam beberapa hari ini. Terlebih Rose yang kemudian beralih profesi menjadi penata rambutku dan mendadaniku hingga aku sendiri pun heran ketika aku bercermin.
"Kau benar-benar cantik, Claire."
Itulah tadi kata-kata yang terus menerus diucapkan oleh Rose setidaknya lima kali dalam 10 menit. Sesungguhnya, Rose lah yang berbakat dalam hal make up sehingga penampilanku terkesan natural. Dia sangat mahir dalam hal itu.
Langkahku terhenti di depan sebuah kafe yang terletak di ujung jalan. Kafe ini merupakan tempat favorit kami. Aku benar-benar merindukan Peter. Aku masuk kedalam ruangan itu dan kini laki-laki yang sangat ku kenal tersebut sedang melambaikan tangan ke arahku. Dia memberikan senyuman termanisnya.

Peter

Gadis yang kini sedang berjalan kearahku ini membuatku tak mampu berkata-kata. Memang sudah lebih dari setahun kami telah bersama dan sudah tak terhitung jumlahnya berapa kali kami pergi bersama, menghabiskan waktu bersama. Namun tetap saja setiap kali aku melihatnya, jantungku berdegup dua kali lebih kencang.
Hari ini, ia tampil cantik sekali. Ah, perfect.
"Kau sudah menunggu lama, Pete?"
Tanya Claire begitu ia duduk.
"Tidak, aku memang sengaja datang lebih awal, Claire. "
Jawabku. Aku sedikit lega melihat Claire tidak marah padaku.
"Oh Pete. Kau sudah memesankannya untukku. Aku tidak menyangka kau bisa sehafal ini."
"Bahkan pelayan disini pun akan langsung hafal begitu kau masuk ke tempat ini. Bagaimana aku bisa melupakan hal itu, Ms.Miller?"
Jawabku dan langsung dibalas dengan tawa renyahnya.
"Baiklah.. Jadi kemana kita akan pergi?"
Tanya Claire dengan wajah penasaran.
"Tunggu dulu, Claire.. Pertama-tama kau harus mengisi perutmu dengan beberapa hidangan yang telah kupesan ini. Kau tahu, kau terlihat semakin kurus dan untuk itu aku menghukummu untuk menghabiskan semua ini."
Mata Claire terbelalak ketika tiba-tiba seorang waiter menambahkan beberapa menu hidangan dalam jumlah yang tidak sedikit.
"Peter Aston.. Kau serius dengan hal ini?"
Claire memicingkan mata.
"Apakah aku tidak terlihat serius saat ini?"
Jawabku dengan nada menantang.
"Aku memang belum sempat sarapan pagi ini, tapi tentu saja porsi untuk gadis manis sepertiku.."
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya aku mengacak-acak yang langsung dibalas dengan teriakan protes dan ia mencoba menghindar.
"Peter berhentilah! Kasihan Rose yang dengan susah payah mendandaniku agar terlihat cantik didepanmu."
Kata Claire dengan mimik muka jengkel dan tangannya berusaha untuk merapikan rambutnya.
"Hey kau gadis bodoh, justru jika kau tampil cantik seperti ini laki-laki lain akan menggodamu dan aku tak mau hal itu terjadi. Bahkan ketika kau tak berdandan pun kau sudah terlihat cantik dan itu sudah membuatku was-was."
Jawabku kemudian. Claire tersenyum, wajahnya merona. Aku mengatakannya dengan serius dan aku memang sangat serius dengan kata-kata ku tadi.
"Sudahlah.. Peter Aston, aku menerima tantanganmu untuk menghabiskan seluruh makanan lezat ini."
Wajah Claire berubah serius, sangat lucu tapi aku berusaha untuk tidak menertawakannya.
"Bagus! Kita akan mulai seberapa cepat kau bisa menghabiskan semua hidangan ini."
Aku mengeluarkan handphone dari saku celanaku dan bersiap untuk menghitung waktu.
"Tunggu dulu! Kau tidak mengatakan sebelumnya!"
"Mengatakan apa?"
"Kau tidak memberitahukanku sebelumnya jika kau akan mengukur waktunya!"
Kini aku tidak bisa menahan senyum melihat mimik wajah Claire.
"Tapi memang beginilah peraturannya, Claire."
Jawabku. Claire mengerutkan kening menatap makanan-makanannya di meja., sepertinya ia tidak percaya diri untuk menghabiskan semua.
"Berapa lama waktu yang tersedia, pak juri?"
Tangan Claire kini sudah memegang sendok dan garpu.
"Kuberi waktu.. 15 menit, oh tidak. 10 menit! Ya, kuberi waktu untukmu 10 menit!"
Aku menjawab dengan tegas layaknya seorang juri.
"Ok. Tapi jika aku menang, kau harus menuruti 1 permintaanku. Deal?"
"Satu permintaan? Kelihatannya menarik. Ayo, deal."
Aku menjawabnya. Wajah Claire berubah serius. Sepertinya ia bersungguh-sungguh menerima tantanganku ini.
"Kau siap, Claire? Baiklah.. 3.. 2.. 1 go!"
Mulailah aku mengukur waktu. Claire dengan lahap memakan dan mulutnya penuh dengan makanan. Aku merekan 'pertandingan' ini dengan handycam yang kubawa. Wajah Claire tampak serius bahkan sedetik pun pandangan matanya tak lepas dari piring makanan itu. Ia tampak fokus.
"Ayo! Berjuanglah Claire! Kau pasti bisa!"
Aku menyemangatinya sementara tanganya membentuk huruf 'o' yang berarti 'okay'.
"Apakah makanan-makanan ini enak, Claire?"
Tanyaku. Mataku masih tertuju pada layar handycam yang kubawa.
"Imne.. emnak sekali.."
Jawab Claire yang terdengar kurang jelas karena mulutnya yang masih sibuk mengunyah. Aku tertawa mendengar jawabannya.
"Kalau begitu habiskanlah."
Seruku pada gadis yang tengah ku rekam.
"Baiklaah.. Sedikit lagi Claire.. Waktumu tinggal 3 menit lagi.."
Aku mengecek layar handphone ku. Kini Claire semakin mempercepat mengunyah dan sesekali meminum milk tea-nya. Kurasa Claire bisa menyelesaikannya, gumamku.
"Ok, mari kita menghitung mundur.. 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1 ya! Waktumu habis. Hey, Claire sudah cukup."
Claire bangkit berdiri, wajahnya berseri-seri tampak senang, dia mengangkat kedua tangannya sementara mulutnya masih penuh dengan makanan. Aku tercengang melihat hidangan dimeja itu habis dalam 10 menit. Mataku menangkap wajah gadis yang sangat ku cintai ini bahagia, dibalik handycamku. Hey, Claire seberapa bahagianya kau saat ini, melihatmu tersenyum bahagia seperti ini membuatku lebih bahagia sejuta kali lipat. Kau mungkin tidak akan pernah tahu rasanya, gumamku dalam hati.
"Yeaah! I did it, Pete!"
Ia tertawa lepas kepadaku.
"Yes! You did it, girl!"
Kini bukannya aku mengacak-acak rambutnya aku malah membelai rambutnya, mendekapnya.
"Kau telah berjuang dengan keras, Claire. Terimakasih. Nah, kalau begitu aku akan berjuang keras untukmu, kan?"
Bisikku padanya. Claire terdiam. Kami saling tertegun. Handycam yang sedari tadi kupegang sudah tergeletak diatas meja. Bagaimana bisa aku meninggalkanmu? Bagaimana bisa aku jauh darimu setelah kau hadir dan aku tak bisa sekalipun mencegahnya?
"Peter.."
Claire menengadahkan kepalanya, menatapku.
"Hm?"
Tanyaku lembut.
"Sekarang kau harus menepati satu permintaanku."
"Ya, katakanlah."
" Mari kita bersenang-senang sejenak. Aku tahu hari-hari kedepan tidak akan sama seperti hari ini. Jadi, ayo kita bersenang-senang. Untuk hari ini."
Aku benar-benar tertegun mendengar apa yang diucapkan Claire.
Aku menatap wajahnya lekat-lekat. Aku bisa melihat mata cokelat beningnya menyiratkan kelembutan dan ketenangan. Seakan ia berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ya, aku tahu Claire. Semuanya akan baik-baik saja.
"Baiklah tuan putri. This is our day. No one can't take this away."
Aku mengecup keningnya dan segera setelah itu kami keluar dari tempat itu. 

 

POSTED BY Unknown ON Sunday, 21 April 2013 @ 09:33
Click for the Older Chapter | all rights reserved desiree 2012 | Click for the Newer Chapter