CHAPTER 8
Claire
And I love you because you have given me no choice but to stay, stay, stay..
Kami berjalan menyusuri pantai. Pantai di Kota Seabrook ini sepi dan ombak di pantai ini tak terlalu besar. Peter tengah menggenggam erat tanganku. Raut wajahnya tampak cerah, dia terlihat tampan sekali hari ini. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini namun aku tahu dia sedang memiliki masalah. Aku hanya ingin dia melupakan masalahnya sejenak, bahkan jika aku dapat berbuat sesuatu untuk sekedar meringankan masalahnya aku rela melakukan apapun. Termasuk tadi, aku telah menghabiskan beberapa macam makanan yang ia pesan tanpa sepengetahuanku dan aku bahkan bisa menghabiskannya dalam waktu 10 menit. Sejujurnya, aku hanya ingin melihatnya tersenyum mengingat beberapa hari ini dia tampak kacau, putus asa, frustasi, dan apapun itu. Dia tidak tahu bahwa aku dapat merasakan apa yang dia tengah rasakan. Aku akan ikut menangis jika dia menangis. Aku akan tertawa jika ia tertawa. Yah.. Inilah aku..
"Claire?"
Panggil Peter.
"Ya..?"
"Apa kau.. Tahu seberapa bahagianya aku hari ini?"
Tanyanya lembut. Kami masih berjalan menyusuri tepi pantai dengan angin yang bertiup sepoi-sepoi.
"Aku mengenalmu, bahkan lebih dari dirimu sendiri."
Jawabku. Laki-laki itu mempererat genggamannya, ia tersenyum mendengar jawabanku.
"Ya, kau memang lebih mengenalku, melebihi aku mengenal diriku sendiri."
Sahutnya menoleh kearahku.
"Claire, cobalah kau berpose disebelah sana. Aku akan mengambil beberapa fotomu."
Tiba-tiba Peter mengambil handphone nya dan bersiap akan memotret. Aku masih terheran-heran, berdiri tanpa menuruti perkataannya.
"Apa kau tak dengar? Lekaslah berdiri di sebelah sana, Claire."
Peter mengacungkan jari telunjuknya ke sebelah sisi pantai. Wajahnya tampak serius.
"Disini?"
Kini aku berdiri di bawah pohon yang agak teduh.
"Tidak, geser sedikit. Nah.. Stop."
"Baiklah, lalu apa sekarang?"
Tanyaku dengan wajah agak bingung.
"Pada hitungan ke-3, aku akan mengambil fotomu. Okay?"
Ucap Peter layaknya seorang fotografer profesional.
"Aku bukan seorang model, Pete. Aku tak bisa berpose."
"Bergayalah sesuka hatimu, Claire."
Mata Peter sudah terfokus pada layar handphone nya. Fine. Aku jarang berfoto apalagi kini Peter menyuruhku untuk berpose.
"Okay.. 1.. 2.. Claire, kau menutupi cahayanya. Backlight."
Keluh Peter yang tiba-tiba menghentikan hitungannya.
"Baik. Ulangi. Claire, geserlah ke kiri. Nah, seperti itu."
Tambahnya kemudian. Aku hanya bisa menghela nafas.
"Kau siap Claire? Ok, 1.. 2.. Oh, tidak.. Maaf Claire, ada seseorang lewat di belakangmu. Ayo kita ulangi."
Aku menarik nafas, menggelengkan kepala. Bahkan wajah Peter mengartikan bahwa ia juga merasa kesal. Claire, bersabarlah, gumamku dalam hati.
"Baiklah Claire.. Tahan.. 1.. 2.. 3.. Ya Tuhan. Ini video, bukan foto."
Mendengar ucapan innocent dari mulut laki-laki itu, aku segera berbalik badan dan melangkah pergi tanpa mempedulikannya. Peter berulah lagi. Bahkan dengan mudah aku terjebak. Terdengar nyaring gelak tawa Peter dan langkah kakinya yang menyusulku.
"Hahaha tunggu Claire!"
Ku lirik ia tengah memegang handycamnya dan sedang merekamku. Aku masih berjalan dengan langkah cepat tanpa menghiraukannya.
"Lihatlah wajahnya. Gadis yang tengah merajuk terlihat jelek. Oh, tidak. Gadis itu mendengar ucapanku dan kini sedang menatapku tajam. Oh, Tuhan. Bahkan aku ketakutan."
Kulihat dari balik lensa handycam. Wajahnya tampak sangat girang. Dia terus menggodaku, sementara aku terus berjalan tak menghiraukannya. Sesekali Peter mengarahkan handycamnya terlalu dekat dengan wajahku sehingga tanganku harus menepisnya.
"Aku salah. Ternyata gadis ini cantik sekali. Hey, bolehkah aku menikahimu suatu hari nanti?"
Ocehnya, matanya masih terfokus pada benda yang sedang ia bawa. Aku tak kuat menahan senyumku saat mendengarnya.
"Kau tak menjawab? Ayolah.. Aku akan berjanji untuk menjadi pasangan hidup yang sempurna untuk.."
BUK!
Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, laki-laki itu terjatuh karena ia tak melihat semak dibelakangnya. Sepersekian detik aku terkejut. Namun detik berikutnya meledaklah tawaku. Peter tengah mengaduh kesakitan sementara aku dengan cepat merebut handycam ditangannya dan kini akulah yang memegang kendali.
"Hahaha keadaan berbalik Pete. Cepat bangkit dari pasir itu dan lekas mohon ampun padaku."
Ucapku sembari merekam kejadian menyenangkan itu. Kakiku menendang-nendang pasir agar mengenai tubuhnya.
"Baiklah, Claire.. Oh.. Kau yang menang."
Peter setengah berdiri ketika tiba-tiba saja dia dengan cepat meraihku. Spontan aku menghindar dan ia mengejarku. Kami berdua diselimuti oleh tawa lepas dan bahagia.
Tak terasa, langit mulai berubah senja. Kini kami tengah duduk di bibir pantai. Cuaca hari ini sangat cerah. Aku menoleh ke arah laki-laki yang duduk disebelahku. Rambut hitam kecoklatan itu tertimpa oleh sinar matahari sore. Matanya memandang lurus ke depan, menatap matahari yang perlahan tenggelam.
"Sepertinya.. Aku tak ingin mengakhiri hari ini."
Ucap Peter. Memecah suara ombak.
"Ya, begitupun denganku."
Lirihku. Senja ini tampak sepi, hanya deburan ombak yang mengisi keheningan. Tangan Peter menggenggamku erat, seakan ia tak ingin kami berpisah.
"Kau tidak nampak seperti biasanya, Pete."
Kemudian ia menatapku tajam.
"Memangnya.. Apa yang berbeda dariku?"
Tanya Peter. Aku tahu dari nada bicaranya, sedikit ada ketakutan disana.
"Aku merasa.. Kau seakan-akan menganggap bahwa ini kencan terakhir kita.."
Jawabku lirih. Kepalaku tertunduk. Entah mengapa mengucapkan kalimat itu pun terasa menyakitkan bagiku. Peter terdiam, ia masih menatapku namun aku tak berani menatapnya. Semakin lama ia terdiam, semakin takut aku menerima kenyataan. Apapun itu alasannya, aku terlalu takut untuk mengakui feelingku yang membisikkan sesuatu yang buruk. Dia menghela nafas. Kemudian tangannya mendekap pundakku dan membiarkan kepalaku bersandar pada pundaknya. Tangannya membelai rambutku.
"Aku sedang berjuang di titik perjuanganku. Aku berjanji akan memberitahumu setelah semua ini selesai, karena aku tak mau kau ikut memikul masalah ini, Claire. Bersabarlah.."
Ucapnya lembut.
"Tentu saja aku mengerti. Aku percaya apapun yang kau lakukan, itulah upaya yang terbaikk yang bisa kau lakukan. Maka dari itu, berusahalah Peter.."
Aku dapat merasakan wangi tubuh Peter. Hembusan nafasnya, hangat belailan tangannya.
Begitulah kami pun mengahiri hari ini dan aku tak akan melupakannya. Thankyou, my mood booster..
.
POSTED BY Unknown ON Saturday, 27 April 2013 @ 18:09