CHAPTER 9
James
Aku membawa baki berisi sepotong hot dog dan segelas vanilla latte untuk sekedar mengganjal perutku siang ini. Disampingku sudah ada Peter dengan makanannya. Kami berjalan menuju meja di pojok ruangan yang masih tampak kosong. Ketika kami baru saja duduk dan meletakkan nampan, seorang gadis berambut coklat berjalan menghampiri kami.
"Hai, Pete."
Sapanya ketika ia mendekat.
"Oh, hai Molly."
Balas Peter.
"Hey, kau mengenalnya?"
Tanyaku heran. Yang kutahu Peter bukan tipe orang yang mudah kenal dengan orang lain terlebih seorang gadis. Gadis-gadis yang dikenal Peter umumnya juga gadis yang kukenal. Sedangkan Peter, yah dia memang dikenal banyak orang di sekolah karena prestasi dan ketampanannya. Tapi sebaliknya, dia tak mengenal banyak orang. Di sekolah, hanya sekedar teman sekelas atau teman sekamar, mungkin. Bahkan kedekatannya dengan Claire aku sendiri pun tak tahu. Kurasa, Claire adalah pacar pertamanya.
"Senang bertemu denganmu lagi, Pete. Bolehkah aku duduk disini?"
Tanya gadis itu yang kuketahui bernama Molly.
"Tentu, duduklah."
"Bagaimana keadaanmu, Pete? Kuharap sudah lebih baik sekarang."
Tanya Molly, mereka terdengar akrab.
"Ya, aku sudah lebih baik sekarang."
Dan begitulah seterusnya. Mereka larut dalam perbincangan. Sepertinya mereka tak menganggap keberadaanku saat ini. Aku menyantap hot dog cepat-cepat. Aku tidak nyaman dengan keadaan ini.
"Oh, ngomong-ngomong.. Apakah dia temanmu?"
Apa-apaan ini? Seakan dia baru menyadari keberadaanku sekarang. Dia bahkan tidak bertanya langsung padaku.
"Kenalkan, dia teman baikku, James."
Peter mengenalkanku pada gadis tadi. Aku menatapnya datar. Jujur aku tak tertarik dengan wajahnya yang arogan dan nampaknya dia tak merespon lebih lanjut.
"Baiklah. Peter, kudengar kau jago bermain basket."
Begitulah responnya kemudian. Dia sama sekali tak menyinggung tentangku lagi. Kurasa dia bukan gadis England, karena ia sama sekali tak tahu budaya berjabat tangan ataupun berkenalan dengan ramah. Apa dia tak pernah diajarkan perihal sopan santun?
"Oh, sebenarnya aku tidak begitu mahir dibanding.."
"Peter, aku pergi dulu."
Pamitku sambil membawa baki yang sudah kosong. Aku tak kuat lama-lama disini.
"James.."
Kata itu yang terakhir kudengar dari Peter sebelum aku benar-benar jauh dari mereka.Entah kata James bermaksud memanggilku, atau dia hanya melanjutkan kalimat yang sempat kupotong. Tapi aku tahu dua pasang mata biru itu masih menatapku dengan heran.
Aku terus berjalan hingga keluar dari kantin sembari melemparkan kaleng soda dan tepat masuk ke dalam tempat sampah yang berjarak kira-kira 5 meter dari tempatku berdiri. Jangan sekali-kali membandingkan permainan basketku dengan Peter, karena sangat jelas bahwa akulah yang lebih unggul darinya.
Langkah kaki ku terarah menuju ke lapangan basket. Cukup ramai, pikirku.
Aku mengambil sebuah bola, melemparkannya dari pinggir garis dan blush! Bola itu masuk kedalam ring bahkan tanpa menyentuh ringnya. Beberapa murid yang tengah bermain sempat melihatku dan berdecak kagum. Ada apa dengan mereka? Seakan belum pernah melihatku saja. Ini belum seberapa, dibanding aksiku ketika aku bersungguh-sungguh bertanding.
"James tolong lemparkan bola itu padaku!"
Seru seorang murid laki-laki bertubuh besar. Malvin. Aku tidak terlalu mengenalnya. Namun yang kutahu dia itu salah satu pengurus klinik sekolah dan ia juga sering menjadi center dalam tim basket di kelasnya.
"Baiklah.."
Aku melemparkan bola itu pada Malvin. Aku sedang tidak ingin bermain bola orange itu dan melihat lapangan basket yang ramai mendorongku untuk melangkah pergi. Lebih baik untuk kembali ke kelas.
Hari ini matahari bersinar cukup terik. Aku sengaja memilih jalan melewati lorong kelas murid perempuan. Jalan ini lebih sepi dan cukup teduh. Hanya ada beberapa murid perempuan saja yang tengah bersenda gurau sementara berbisik ketika melihatku berjalan gontai. Mereka bahkan belum pernah melihat laki-laki setampan diriku. Aku terus berjalan hingga tak sengaja mataku menangkap warna merah tua khas Claire yang nampak mencolok dari kaca jendela kelas. Tampaknya ruang kelas itu tengah ujian tulis. Terlihat jelas kertas putih di atas meja dan tidak ada satu pun buku tebal di sampingnya. Yah, cukup sepi. Bahkan derap langkah kakiku berjalan di sepanjang lorong pun dapat didengar telinga manusia. Hmm, teringat tentang Claire, itulah alasanya mengapa gadis itu tidak menemui Peter sewaktu istirahat. Malah datang gadis yang sama sekali tak punya sopan santun, apalagi melihat Peter bersikap ramah padanya membuatku jengkel.
Aku tiba di kelas dan melihat sosok Peter sudah duduk di bangkunya. Bersamaan dengan itu, bel tanda pelajaran dimulai berbunyi. Peter menoleh saat ia menyadari kedatanganku.
"Kau dari mana saja?"
Tanyanya setelah aku duduk.
"Seperti biasa, kau sudah tahu itu."
"Kau ini.. Ada apa denganmu?"
Tanyanya lagi. Ia sedikit menggeser kursinya ke belakang agar dapat melihatku.
"Tidak ada apa-apa. Kenapa kau sewot?"
"Oh, tolong James. Berhentilah bersikap kekanak-kanakan. Hanya masalah kau tidak disapa oleh.."
"Ya! Memang aku sudah terbiasa seperti ini! Aku tidak heran melihatmu dikagumi oleh banyak gadis dan kau lihat sendiri? Kau bahkan mengucilkanku saat kau sedang bersama seorang gadis!"
Meluncurlah kalimat-kalimat itu dari mulutku. Dari ekspresinya, Peter nampak terkejut bercampur heran. Mungkin memang inilah kata-kata yang selama ini kupendam.
"Kau salah, James.."
Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, Ms.Anne masuk ke ruang kelas.
"Maaf, Peter Aston ikutlah denganku."
Ucap Ms.Anne dan langsung diikuti oleh langkah cepat Peter beranjak dari ruang kelas. Untuk kesekian kalinya.
Peter
Aku sudah berada di dormku sejak pulang sekolah tadi. Tangan kiriku menggenggam sekaleng soda sedang tangan kananku menggenggam sebuah handphone. Aku mulai mencari kontak -Dad- lalu ku tekan call. Beberapa saat terdengar nada sambung dan tak lama setelah itu terdengar suara jawab dari seberang sana.
"Halo, Pete? Bagaimana?"
Itu suara Dad.
"Dad.. Ku kira kau tidak benar-benar melakukan hal ini."
Kataku dengan suara cukup tegas. Aku teringat kejadian di sekolah tadi, dimana saat aku dan James tengah ribut, Ms.Anne datang dan memberitahukan berita buruk. Selalu saja hal buruk yang dikatakan oleh Ms.Anne padaku.
"Kau masih bersikeras dengan segala argumenmu, Pete?"
Suara Dad terdengar meninggi.
"Kau bahkan tidak mempertimbangkan argumenku, Dad!"
"Mempertimbangkan alasanmu bukan berarti aku menyetujui keinginanmu."
Ucap Dad lantang.
"Ku mohon, Dad berikan aku kesempatan setidaknya sampai aku menyelesaikan studiku disini."
Mungkin ia sudah lelah dengan semua bujuk rayuku.
"Kau bahkan belum bisa berpikir dewasa."
"Dewasa seperti apa yang Dad inginkan? Bukankah kau yang selalu mengaturku? Biar kuperjelas, bahkan untuk urusan pendidikanpun masih kau pegang. Bagaimana bisa kau melatihku untuk menjadi dewasa seperti yang kau pikirkan?!"
Aku belum pernah se-frustasi ini hingga berani membentak orang tuaku sendiri. Steve yang tengah sibuk di dapur pun sempat menoleh ke asal suaraku dan nampak dari wajanya ia cukup heran dengan apa yang sedang kulakukan.
"Jangan sekali-kali kau berani membentak ayahmu sendiri! Kau berpikiran terlalu dangkal. Ini semua kulakukan demi masa depanmu! Bukan hanya untuk masa depan perusahaan! Kau dengar itu?!"
Volume Dad tak kalah lebih keras dengan volume suaraku tadi. Aku baru sadar, kaleng soda ditanganku sudah tak berwujud seperti kaleng lagi. Tanganku meremas kaleng itu hingga menimbulkan suara.
"Bagaimana jika aku benar-benar pergi ke Jepang dan tidak pernah kembali kesini lagi?"
Tanyaku. Suaraku terdengar bergetar menahan emosi.
"Peter, kau harus tahu ini. Memang dari awal sebenarnya kau tinggal denganku dan Mom di Jepang. Hanya saja Mom-mu lah yang memilih untuk kau bersekolah di Inggris."
"Bagaimana dengan teman-temanku disini?"
Bagaimana dengan Claire?
"Ya, aku mengerti soal hal itu. Aku juga sedikit menyayangkan mengapa kau harus tinggal di Inggris sejak kau kecil, sedangkan aku tahu cepat atau lambat kau pasti akan kembali ke Jepang."
Ucapnya yang kini diikuti oleh helaan nafasku. Mereka hanya bisa mengatakan bahwa mereka menyesal tanpa bisa merubah keadaan menjadi lebih baik.
"Kau serius bahwa lusa aku akan pergi dari sini?"
Mengucapkan kalimat itu pun membuat suaraku terdengar serak. Sesak.
"Setidaknya kau masih punya satu hari untuk berpamitan dengan teman-temanmu disana. Dad akan izinkan kau mengadakan.. Yah, seperti pesta perpisahan kecil-kecilan."
Aku menggigit bibirku, memejamkan mata untuk beberapa detik. Aku tertunduk lesu.Rasanya seluruh tenaga terkuras habis.
"Itu.. Tidak perlu Dad. Bisakah aku berbicara dengan mom?"
"Tentu."
Setelah beberapa detik, aku tersambung dengan suara wanita yang sangat ku kenal.
"Bagaimana keadaanmu, nak?"
Tanya wanita itu. Sepertinya ia telah mendengar percakapan antara aku dan dad ditelefon.
"Mom.. Please.."
Ucapku pelan. Lirih sekali.
"Maafkan mom, Pete.. Bahkan mom tidak dapat membantumu.. Dad benar. Cepat atau lambat kau akan meninggalkan teman-temanmu disana. Semuanya akan baik-baik saja setelah kau tinggal disini. Percayalah.."
Jalanku tertutup. Tak ada celah terbuka lagi. Benar-benar sudah tidak ada harapan lagi.
"Jadi.. Inikah keputusan akhir?"
"Yes, dear.. Kami benar-benar menyesal telah membuatmu kecewa."
"Jika memang ini yang kalian inginkan, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Bye mom.."
Aku mengakhiri percakapanku ditelefon. Kupejamkan mata untuk beberapa waktu. Pikiranku melayang tanpa arah. Aku bahkan belum mempercayai ini semua dan berharap ini hanya mimpi buruk yang akan segera berakhir. Suasana tampak hening ketika tiba-tiba terdengar suara memecah keheningan.
"Apakah itu semua benar, Pete?"
Terlihat James bertanya dengan wajah pucat dan menatapku dengan tajam. Aku bahkan tidak tahu sejak kapan James datang. Aku tertegun melihatnya.
POSTED BY Unknown ON Wednesday, 1 May 2013 @ 21:31